Lanjut ke konten

FIQH AL-HADITS: ASPEK PENTING ILMU HADIS

Maret 20, 2010

Kajian terhadap hadis-hadis Nabi, tidak hanya terbatas pada kajian ilmu riwayah, yakni ilmu yang mempelajari tentang periwayatan hadis (al-Khathib, 1989: 7) atau ilmu dirayah, yakni berupa kaedah-kaedah yang bertujuan untuk mengetahui apakah sebuah hadis dapat diterima sebagai riwayat yang bersumber dari Nabi (maqbul) atau tidak (mardud) (al-Khathib, 1989: 8) Tetapi secara lebih luas meliputi berbagai aspek-aspek kajian lainnya, seperti: aspek kesejarahan, aspek pemahaman, aspek literatur-literatur, para tokoh, dan kajian Barat terhadap hadis. Meskipun demikian, kajian ilmu dirayah dan riwayah hadis lebih populer dibanding dengan aspek-aspek kajian hadis lainnya. Ini terlihat dari banyaknya karya-karya tentang ilmu dirayah dan riwayah hadis yang muncul sejak awal pertumbuhan dan perkembangan ilmu hadis itu sendiri.
Hal ini wajar, karena kajian ilmu dirayah dan riwayah hadis sangat mendesak dan mendasar dalam menyiapkan hadis-hadis Nabi yang dapat dijadikan sebagai sumber ajaran agama. Di samping itu, ilmu dirayah dan riwayah hadis tumbuh dan berkembang secara simultan dengan periwayatan hadis itu sendiri. Dan tiba pada masa kodifikasi hadis, ilmu dirayah dan riwayah semakin menempati posisi yang sangat penting bagi para pengkodifikasi. Imam al-Bukhari misalnya, yang bersafari selama lebih kurang 16 tahun (Abu Syuhbah, 1991: 47) dalam mengumpulkan dan mengkodifikasi hadis-hadis Nabi dari satu daerah ke daerah lainnya, menetapkan dan mengembangkan beberapa kriteria dalam menerima dan mengklasifikasikan hadis-hadis dalam kategori maqbul. Karena itu, dari 600.000 hadis yang diperolehnya, hanya 4.000 hadis (Abu Syuhbah, 1991: 48) yang dimuat dalam kitabnya “Al-Jami’ al-Shahih-nya yang dipandang layak dari segi validitas sanadnya. Demikian pula Imam Muslim dan beberapa imam hadis lainnya.

PENGERTIAN FIQH AL-HADITS
Kata fiqh (فقه), yang secara bahasa berarti “mengetahui sesuatu dan memahaminya”. Kata fiqh sudah menjadi istilah yang ekslusif dipakai untuk menunjukan salah satu disiplin ilmu keislaman. Karena itu, dapat dilihat batasannya sebagai “ilmu hukum-hukum syara’ yang bersifat praktis yang diitstinbagkan dari dalil-dalilnya yang terperinci”. Tetapi kata fiqh yang dimaksudkan di sini, adalah kata fiqh dalam makna dasarnya.
Kata ini sebanding dengan kata fahm (فهم) yang juga bermakna memahami. Tetapi kata yang lebih populer dipakai untuk menunjukan pemahaman terhadap suatu teks keagamaan atau cabang ilmu agama tertentu adalah fiqh. Hal ini wajar, karena meskipun kedua kata ini sama-sama bermakna memahami, namun kata fiqh lebih menunjukan kepada makna “memahami secara dalam” sehingga seperti kata al-Raghib al-Asfahani fiqh adalah pemahaman yang sampai pada sesuatu yang abstrak (علم غائب) (Al-Raghib al-Asfahani: 398). Itu pula sebabnya, Ibnu al-Qayyim menyatakan bahwa kata fiqh lebih spesifik dari kata fahm, karena fiqh memahami maksud yang diinginkan pembicara. Jadi fiqh merupakan kemampuan lebih dari sekedar memahami pembicaraan secara lafaz dalam konteks kebahasaan (Ibnu al-Qayyim, II: 462).
Dengan demikian, maka fiqh al-hadits dapat dikatakan sebagai salah satu aspek ilmu hadis yang mempelajari dan berupaya memahami hadis-hadis Nabi dengan baik. Dimaksudkan dengan baik adalah mampu menangkap pesan-pesan keagamaan sebagai sesuatu yang dikehendaki oleh Nabi (murad al-Nabi).
Pesan-pesan keagamaan tersebut terutama sekali yang tersirat baru dapat ditangkap bila dilakukan dengan usaha penggalian makna dan dilalah. Karena itu, mengetahui makna lahir redaksi hadis, belum tentu dapat menyampaikan seseorang kepada apa yang diinginkan oleh Rasulullah saw. Sebagai contoh:
عن أنس : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال اللهم أحيني مسكينا وأمتني مسكينا واحشرني في زمرة المساكين يوم القيامة. رواه الترمذي وابن ماجة والبيهقى
Dari Anas bahwa Rasulullah saw berdoa: “Ya Allah, hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, dan matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan himpunlah aku pada hari kiamat nanti bersama orang-orang miskin. (al-Tirmizi, IV: 557)
Bila membaca lahir teks do’a Nabi ini, maka Nabi terkesan Nabi sesungguhnya mengajarkan kepada umatnya agar hidup dalam kekurangan harta kekayaan. Tetapi apakah benar itu yang dimaksudkan oleh Nabi? Tampaknya, yang dimaksudkan oleh Nabi bukanlah kemiskinan dalam arti kekurangan harta. Sebab bila ini yang dimaksudkan oleh Nabi, maka kita akan sulit memahaminya, karena akan bertentangan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi yang lainnya yang meminta perlindungan kepada Allah dari kufur dan fakir, atau peringatan Nabi bahwa lebih baik meninggalkan anak-anak cucu dalam keadaan berkecukupan dari pada meminta-minta kepada orang lain, serta hadis-hadis yang memuji orang kaya yang takwa.
Di sisi lain, pemahaman yang hanya terbatas pada makna lahir redaksi hadis, terkadang menimbulkan kekeliruan dan kerancuan. Berikut ini beberapa contoh hadis:
لا يدخل هذا بيت قوم الا ادخله الله الذل. رواه البخاري
Tidaklah benda seperti ini (alat pertanian) masuk ke rumah suatu kaum, melainkan Allah akan memasukan kehinaan kepadanya (H.R. Bukhari, II: 817).
Jelas sekali bahwa makna lahir redaksi teks hadis mencela pekerjaan bertani dan bercocok tanam, sehingga bagi pelakunya dinyatakan akan diberi kehinaan. Tetapi, tidakkah kita terjebak dalam kekeliruan bila makna yang ditangkap dari hadis ini adalah tercelanya pekerjaan bertani dan bercocok tanam?
Jelas sekali bila makna lahir tersebut yang ditangkap, maka akan menimbulkan kerancuan-kerancuan. Pertama, ada beberapa hadis Nabi yang memuji pekerjaan bertani atau bercocok tanam:
Tidaklah seorang muslim menanam suatu tanaman kemudian dimakan oleh orang, atau binatang maupun oleh burung melainkan (apa yang dimakannya) itu menjadi sedekah (al-Bukhari, II: 817).
Hadis riwayat Anas bin Malik bahwa Nabi saw bersabda: Jika kiamat tiba, sedang ditanganmu terdapat setangkai benih, bila kau mampu menanamnya, maka tanmalah ia (Musnad Abd Humaid, Juz I: 366).
Kedua, sejarah membuktikan bahwa orang-orang Anshar—karena kesuburan tanahnya—kebanyakan mereka memiliki mata pencaharian bertani. Nabi tidak melarang mereka bertani, bahkan al-Qur’an memberi legalitas dengan pekerjaan pertania dengan mewajibkan membayar zakat sebesar 10% bagi tanaman biji-bijian yang mengenyangkan yang tumbuh dari siraman air hujan, dan 5% bagi tanaman yang diari.
Pesan-pesan Nabi yang terkandung dalam redaksi-redaksi hadis, tidak saja harus digali dan dirumuskan sebagai sesuatu ajaran praktis, tetapi juga lebih jauh dari itu adalah tuntutan penyesuaian dan pengembangan pesan-pesan Nabi dalam lingkup yang lebih luas adalah hal yang paling mendesak. Hal ini mengingat rentang waktu yang jauh antara dunia Nabi dengan dunia kini dapat membuat hadis-hadis Nabi menjadi tidak lagi relevan. Sementara di sisi lain, perkembangan kehidupan dan perilaku umat juga semakin berkembang dan kompleks.
Usaha penggalian, pemahaman, dan perumusan ajaran Islam dari hadis-hadis Nabi, di kalangan ahli hadis, disebut juga dengan istilah fiqh al-hadits atau syarh al-hadits. Hasil-hasil penggalian dan penjelasan terhadap hadis-hadis ini ditulis dalam kitab-kitab syarh oleh para ulama
Dalam kerangka teoritis ilmu hadis, pemahaman terhadap hadis-hadis Nabi baru dilakukan setelah hadis-hadis yang diperoleh berada dalam kategori maqbul (diterima validitasnya sebagai riwayat yang bersumber dari hadis-hadis Nabi).

POSISI FIQH AL-HADITS
Dari sekian aspek-aspek kajian ilmu hadis, fiqh al-hadits merupakan dimensi yang tak kalah pentingnya setelah ilmu dirayah dan musthalah hadis. Hal ini karena fiqh al-hadits, adalah kajian yang mencoba menggali dan memahami ajaran yang terkandung dalam hadis-hadis Nabi untuk dapat diamalkan. Apresiasi terhadap Islam tidak hanya cukup dengan mengetahui adanya pesan-pesan Allah dan Rasul serta memperagakan ketaatan semata, tetapi juga lebih jauh dari itu, yakni kemampuan menangkap dan memahami pesan-pesan yang terkandung di balik redaksi al-Qur’an dan hadis-hadis Nabi. Kemampuan inilah sebetulnya yang paling penting dalam mencuatkan dan meneguhkan karakter agama yang moderat, tidak memberatkan dan shalih li kulli zaman wa makan (selalu selaras dengan ruang dan waktu manapun).
Sejak masa yang paling awal, para sahabat telah memperlihatkan kemampuan menangkap pesan-pesan di balik redaksi yang disampaikan oleh Nabi. Karena itu, terkadang kita melihat sebagian sahabat seperti Aisyah dan Umar bin Khatab terlihat lebih maju dalam memahami hadis-hadis Nabi, bahkan secara lahir terkesan meninggalkan hadis. Hal ini berlanjut pada generasi-generasi berikutnya sampai pada imam-imam mazhab dalam bidang fiqh, terutama sekali dari kalangan mazhab Hanafi sehingga mereka digelar dengan ahl al-raky.
Pada zaman Nabi para sahabat tidak terlalu sulit memahaminya. Sebagian besar mereka mengetahui asbab al-wurud (latar belakang disabdakannya hadis oleh Nabi), bahkan mereka dapat saja mengkonfirmasikan apa yang mereka terima sebagai hadis kepada Nabi. Aisyah misalnya, bila ia tidak memahami apa yang disampaikan Nabi karena hadis tersebut terasa bertentangan al-Qur’an, ia langsung meminta penjelasan kepada Nabi.
عن عائشة قالت: أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من حوسب عذب. قالت عائشة فقلت أوليس يقول الله تعالى: فسوف يحاسب حسابا يسيرا. قالت فقال: إنما ذلك العرض ولكن من نوقش الحساب يهلك. رواه البخاري
Diriwayatkan dari Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Siapa yang dihisab pada Hari Kiamat niscaya dia akan diazab. Aisyah berkata: Lalu aku bertanya: Bukankah Allah SWT telah berfirman: Maka ia akan dihisab dengan hisab yang mudah? Rasulullah saw bersabda: Itu hanyalah pembentangan, tetapi orang-orang yang diteliti hisabnya maka dia celaka (mendapat azab). (H.R. Bukhari, 1987: 51).

KEBUTUHAN YANG SEMAKIN MENDESAK
Tetapi setelah berlalu beberapa generasi, sebagian hadis-hadis Nabi mulai tampak sulit dipahami (musykil), baik karena kata-kata yang ada dalam redaksi hadis itu sulit dipahami karena asing atau juga karena sulit dipahami ketika berada dalam konteks redaksi tertentu (gharib) maupun karena dipandang bertentangan satu sama lainnya (mukhtalif). Tiba pada abad modern saat ini, hadis-hadis tidak hanya dipandang bertentangan satu sama lainnya, tetapi juga dipandang bertentangan dengan logika dan pengetahuan modern.
Hadis tentang lalat misalnya menuai banyak komentar sarjana karena dipandang bertentangan dengan pengetahuan modern. Nabi bersabda:
عن أبي هريرة رضي الله عنه : أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إذا وقع الذباب في إناء أحدكم فليغمسه كله ثم ليطرحه فإن في أحد جناحيه شفاء وفي الآخر داء. رواه البخاري
Hadis dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman kamu, maka benamkanlah (lalat itu sepenuhnya dalam minuman itu) dan kemudian buanglah (lalat) itu. Kerana sesungguhnya pada sebelah sayapnya terdapat penyembuh manakala pada sebelah yang lain terdapat penyakit (Bukhari, V: 2180).
Muhammad Rasyid Ridha, seperti yang diungkap oleh Juynboll (1999: 207), menyatakan hadis ini ganjil karena dua alasan: pertama, dari sisi Rasul, hadis ini melanggar dua prinsip utama, yaitu: tidak menasehati agar menghindari sesuatu yang buruk, dan tidak menasehati agar menghindarkan diri dari sesuatu yang kotor. Kedua, kemajuan ilmu pengetahuan tetap tidak mampu mengetahui apakah bedanya antara sayap lalat yang satu dengan sayap yang satu lagi. Jika perawinya tidak membuat kesalahan dalam meriwayatkan matannya, maka hadis itu harus dipandang sebagai ilham dari Allah.
Sementara Muhammad Taufiq Shidqi menyatakan hadis ini sulit dipahami tidak saja karena bertentangan dengan pengetahuan modern, tetapi juga dengan hadis Nabi di mana beliau bersabda: “Bila menteganya padat, buanglah tikus itu dan mentega bekas tikus itu, dan sisanya dapat kamu makan; tetapi bila menteganya sudah mencair, buanglah menteganya dan jangan disentuh.” Tikus dan lalat sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Maka sulit untuk mempercayai, kata Shidqi, bahwa hadis ini diucapkan oleh Nabi (Joynboll, 1999: 206).
Demikian pula hadis yang menyatakan matahari, bila telah malam, ia pergi sujud kepada Tuhannya. Hadis ini dipandang oleh sebagian orang benar-benar bertentangan dengan pengetahuan modern.
عن أبي ذر رضي الله عنه قال : قال النبي صلى الله عليه وسلم لأبي ذر حين غربت الشمس تدري أين تذهب. قلت الله ورسوله أعلم قال: فإنها تذهب حتى تسجد تحت العرش فتستأذن فيؤذن لها ويوشك أن تسجد فلا يقبل منها وتستأذن فلا يؤذن لها يقال لها ارجعي من حيث جئت فتطلع من مغربها فذلك قوله تعالى: الشمس تجري لمستقر لها ذلك تقدير العزيز العليم. رواه البخاري
Dari Abu Dzar ra katanya: Nabi saw bersabda kepadanya: ketika matahari tenggelam: Tahukah kamu ke mana perginya (matahari di malam hari) ?” Saya (Abu Dzar) menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Lalu Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ia pergi sehingga sujud di bawah Arasy. Ia meminta izin maka diizinkannya. Lalu ia segera untuk bersujud lagi tetapi tidak diterima darinya, lalu ia meminta izin lagi namun ia tidak diperkenankan. Dikatakan kepadanya: Kembalilah dari mana kamu datang. Maka ia muncul (terbit) dari tempat ia tenggelam (terbenam). Inilah yang dimaksudkan oleh Allah Ta‘ala dalam firman-Nya: Dan matahari, ia beredar ke tempat yang ditetapkan baginya; itu adalah takdir Tuhan yang Maha Kuasa, lagi Maha Mengetahui.” [Yasin 36:38] (Al-Bukhari, Juz III: 1170)
Kesulitan memahami hadis ini, disebabkan beberapa hal: pertama, kesan yang ditimbulkan dalam hadis ini adalah matahari yang bergerak berputar yang menyebabkan malam. Sedangkan pengetahuan modern menyebutkan terjadinya malam dan siang adalah akibat perputaran bumi pada rotasinya. Kedua, matahari tidak pernah benar-benar tidak tampak di seluruh dunia. Ketiga, matahari disebutkan terbit kembali di tempat terbenamnya.
Dua hadis ini adalah contoh dari beberapa hadis musykîl karena dipandang bertentangan dengan pengetahuan modern. Dalam pandangan yang lebih ekstrim, hadis-hadis semisal ini, disikapi secara skeptis, bahkan ditolak keberadaannya sebagai sesuatu yang bersumber dari Rasulullah.
Tiba di sini, maka rawi-rawi hadis tingkat sahabat seperti Abu Hurairah dan lain-lainnya, menjadi kritikan yang sangat empuk bagi sebagian sarjana. Dalam kasus hadis tentang lalat di atas misalnya, oleh Taufiq Shidqi, Abu Hurairah sebagai perawi hadis tersebut dipandang memiliki penyakit epilepsi, suatu penyakit yang dapat mempengaruhi otak (Juynboll, 1999: 207). Demikian pula Fatimah Mernisi—feminis muslim asal Maroko—yang mengkritik beberapa hadis yang terkesan menyudutkan dan merendahkan derajat kaum wanita, yang lebih dikenal dengan istilah hadis-hadis misoginis (Fatima Mernissi, 1991: 53), juga menyudutkan rawi-rawi tingkat sahabat. Ketika mengkritik hadis tentang larangan wanita menjadi pemimpin, ia merasa sangat heran dengan daya ingat Abu Bakrah—sahabat periwayat hadis ini—yang sangat mempesona. Bahkan menjadi sangat sulit mempercayainya ketika hadis ini baru muncul kemudian, di saat-saat yang menentukan Demikian pula hadis yang menyatakan bahwa kesialan itu ada pada tiga hal: ada pada kuda, wanita dan rumah (Al-Bukhari, Juz III: 1049), sekali lagi rawi pada tingkat sahabat, dalam hal ini adalah Abu Hurairah menjadi objek kritiknya. Menurutnya Abu Hurairah—dari sisi ke-dhabit-annya—adalah pribadi yang kontroversial. Tidak ada kesepakatan bahwa dia merupakan sumber yang dapat dipercaya. Tak terkecuali dalam persoalan hadis ini, ia mengutip sebuah rujukan karya Imam Zarkasyi Al-Ijabah fî ma Istadrakat ‘Aisyah ‘ala al-Shahabah—sebuah karya yang memuat koreksi Aisyah terhadap hadis atau pendapat dari para sahabat—yang menyatakan bahwa Abu Hurairah keliru dalam menangkap penjelasan Nabi pada bagian akhirnya saja. Sebenarnya Nabi menyatakan: “Semoga Allah membuktikan kesalahan kaum Yahudi yang mengatakan bahwa yang membawa kesialan itu ada tiga, yaitu rumah, wanita dan kuda (Fatima Mernissi, 1991 b: 78).

MEMAHAMI MASA YANG BERBEDA
Hadis-hadis ini dan juga beberapa hadis lain, adalah kontekstual dan komunikatif pada zamannya. Tetapi setelah begitu jauh berlalu jarak antara masa Nabi dengan dunia modern sekarang ini membuat sebagian hadis-hadis tersebut terasa tidak lagi komunikatif dengan realitas zaman kekinian. Hal ini wajar karena hadis lebih banyak sebagai penafsiran kontekstual dan situasional atas ayat-ayat al-Qur’an dalam merespons persoalan dan pertanyaan para sahabat Nabi. Dengan demikian ia merupakan interpretasi nabi saw yang dimaksudkan untuk menjadi pedoman bagi para sahabat dalam mengamalkan ayat-ayat al-Qur’an.
Berangkat dari kenyataan tersebut, maka menguatkan kembali fiqh al-hadits dengan berberbagai metode dan pendekatan untuk mahami kembali hadis-hadis Nabi dalam dunia modern dirasa cukup mendesak. Pemahaman kembali terhadap hadis-hadis Nabi ini dimaksudkan dalam rangka mempertahankan dan membela hadis-hadis selama hadis-hadis tersebut secara ilmu hadis dapat dikatakan dapat diterima validitasnya sebagai sesuatu yang bersumber dari Rasulullah (maqbul). Pemahaman juga bertujuan tidak hanya sebatas mengkomunikatifkan dengan realitas zaman, tetapi juga mengembangkan makna-makna sejauh yang dapat dijangkau oleh redaksi hadis.
Karena itu, memanfaatkan berbagai teori dari berbagai disiplin ilmu merupakan langkah positif dan maju dalam memahami kembali hadis-hadis Nabi dalam dunia modern. Perkembangan ilmu-ilmu sosial, seperti sosilogi, antropologi, psikologi, sejarah dan filsafat sangat membantu dalam memahami kembali hadis-hadis Nabi ini.

PENUTUP
Adalah sangat mendesak untuk kembali memahami hadis-hadis Nabi dalam dunia modern. Hadis-hadis yang pada masa awal terasa mudah dan tidak sulit dipahami, sebagiannya telah ditolak karena sulit memahaminya. Fiqh al-hadits, sebagai salah satu aspek ilmu hadis yang mempelajari metode dan pendekatan dalam memahami hadis-hadis Nabi sangat penting dalam antisipasi terhadap penolakan hadis-hadis yang secara validitas dapat diyakini sebagai riwayat yang berasal dari Nabi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib, Ushul al-Hadits: Ulumuhu wa Musthaluhu, Dar al-Fikri, Beirut, 1989
Muhammad Muhammad Abu Syuhbah, Kitab Shahih Yang Enam, Terjemahan Maulana Hasanuddin, Judul Asli: Fi Rihabi al-Sunnah al-Kutub al-Shihah al-Sittah, Litera Antar Nusa, 1991
Ahmad Hasan, Pintu Ijtihad Sebelum Tertutup, Judul Asli: The Early Development of Islamic Jurisprudence,, Terjemahan: Agah Garnadi, Pustaka: Bandung, 1984
Muhammad ibn Ismail Abu ‘Abdillah al-Bukhari al-Ja’fi, al-Jami’ al-Shahih al-Mukhtashar, Dar Ibn Katsir al-Yamamah, Beirut: 1987, Juz I
G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), Judul Asli: The Authenticyty of the Tradition Literature Discussions in Modern Egypt, Terjemahan Ilyas Hasan, Mizan, Bandung, 1999
Fatima Mernissi, The Veil and The Male Elite, Addison-Wesley Publishing Company, New York, 1991
Nurmahni, Hadis-Hadis Misongini: Kajian Ulang Atas Kritik Fatima Mernissi, (Tesis), Program Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN), 2000
Fatima Mernissi, Women and Islam an Historical and Theological Enquiry, Blackwell Publisher, Oxford UK & Cambrigde, 1991
Al-Raghib al-Asfahani, Mufradâd Alfadz al-Qur’ân, Dar al-Fikr, Beirut, t.th
Ibnu al-Qayyim, I’lâm al-Muwaqqi’în ‘an Rabbi al-Ālamîn, Jilid II
Musnad Abd Humaid, Al-Muntakhab min Musnad Abd Humaid, Juz I
Muhammad Ibnu Isa Abu Isa al-Tirmizi, al-Jâmi’ al-Shahîh Sunan al-Tirmizî, Dar Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, t.th., Juz IV

From → Hadis

Komentar ditutup.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: