Artikel 4

LITERATUR-LITERATUR HADIS

Maizuddin M. Nur

 

Abstrak: Perhatian umat yang cukup tinggi terhadap hadis-hadis Nabi telah melahirkan literatur-literatur yang sangat beragam. Tentu saja literatur-litertur ini lahir dari kreatifitas yang tinggi dari muhadditsin dalam memberikan kemudahan untuk dapat dengan mudah mengakses hadis-hadis Nabi untuk kepentingan ilmu dan amal. Keberagaman model literatur-literatur hadis yang lahir baik dari sisi penulisan, maupun materi-materi hadis ditunjukan oleh istilah-istilah bagi literatur itu sendiri. Tetapi, tentu saja istilah-istilah ini tidak mutlak menunjukan konotasi model-model literatur tertentu.

Dalam kehidupan spiritual dan intelektual masyarakat muslim, Nabi saw memperoleh penerimaan kedudukan tersendiri yang cukup kuat. Penerimaan komunitas muslim tersebut tidaklah bersumber dari keberadaan Nabi sebagai seorang yang memiliki kekuasaan dan kekayaan, tetapi penerimaan yang bersumber dari otoritas Nabi sebagai transmiter sekaligus penerjemah wahyu Tuhan. Itulah membuat komonitas ini betul-betul menerima dan mengakui posisi penting Nabi dalam kehidupan mereka. Itu pula sebabnya hampir seluruh gerak-gerik Nabi, baik sabda maupun perilaku hampir-hampir tak pernah lepas dari perhatian para sahabatnya. Di sisi lain, teladan yang ditampilkan Nabi, tidak membatasi siapapun yang bertemu dengannya, ucapan-ucapan beliau yang disesuaikan dengan audiens–gaya bahasa yang mudah dipahami dan sering diulang-ulang–merupakan merupakan faktor pendukung semakin mengkristalnya kharisma Nabi di hati para sahabat.
Dari sini tak mengherankan jika hadis-hadis Nabi menjadi perhatian serius para sahabat hingga mereka dapat mengkover hadis-hadis Nabi yang cukup banyak dan beragam, bahkan hampir meliputi semua bidang kehidupan. Tetapi pada point ini kebanyakan orientalis seperti Ignaz Goldziher, D.S. Margoliouth dan Joseph Schacht skeptis terhadap hadis Nabi. Schacht misalnya–orientalis kelahiran Jerman–karena tak dapat memahami pada point ini, mengemukakan teori projecting back (proyeksi ke belakang). Menurutnya hadis-hadis tidak otentik berasal dari Nabi, tetapi adalah pendapat-pendapat fuqaha yang kemudian untuk mendapatkan legitimasi merujuk kepada orang-orang yang mempunyai otoritas yang lebih tinggi hingga sampai kepada Nabi (Fazlur Rahman, 1984: 56). Tetapi, M.M. Azami dalam tulisannya membuktikan teori Schacth ini sangat lemah dan tidak memiliki dasar yang kuat. (M.M. Azami, 1994: 557-566).
Hadis-hadis Nabi yang cukup banyak diserap oleh para sahabat dipelihara dan disebarkan dengan lisan dan tulisan. Penyebaran hadis ini simultan dengan penyebaran Islam ke berbagai wilayah. Lasykar muslim yang mencakup sebagian besar sahabat membawa hadis kemana pun mereka pergi. Tetapi penyebaran hadis dalam bentuk tulisan yang berkembang kemudian, telah melahirkan beragam model dan gaya literatur-literatur hadis, dari yang hanya berupa catatan-catatan saja sampai pada literatur-literatur yang sistematis dan diakui sebagai kitab standar. Tulisan ini mencoba melihat literatur-literatur hadis yang muncul lebih awal hingga sekarang dengan beberapa karakteristiknya.

PENULISAN HADIS
Sebagian besar sarjana percaya bahwa kurang lebih selama satu abad, hadis hanya disebarkan secara lisan. Ibnu Hajar misalnya menyatakan bahwa para sahabat dan tabiin enggan menulis hadis, mereka cenderung mengajarkannya secara lisan seperti halnya mereka menerima secara lisan. Setelah kecenderungan menghafal mulai menurun dan para ulama khawatir akan punahnya sebagian hadis, mereka lalu menuliskannya. Yang pertama kali menulis hadis adalah Ibnu Syihab al-Zuhri atas perintah Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pada akhir abad pertama Hijri. (M.M. Azami, 1994: 107). Rasyid Ridha yang diikuti Abu Rayyah, bahkan menyatakan bahwa para sahabat tidak menulis dan menyebarkan hadis. Beberapa sarjana Barat juga berpengang pada pendapat ini. Golziher misalnya, meskipun ia mengakui bahwa fenomena hadis kembali ke masa paling awal dan banyak data tentang terdapatnya shuhuf bertulisan hadis sejak dari generasi pertama Islam, namun skeptis tentang apakah shuhuf itu ditulis generasi lebih belakang atau tidak.
Penyebaran hadis secara lisan menurut Ibnu Hajar seperti yang dikutip Azami, disebabkan oleh tiga faktor, yakni: (1) kebanyakan mereka tidak dapat menulis; (2) kekuatan hafalan dan kecerdasan mereka sudah dapat diandalkan, sehingga mereka tidak perlu menulis hadis, dan; (3) semula, adanya larangan dari Nabi untuk menulis hadis, seperti terdapat dalam Shahih Muslim. (M. M. Azami, 1994: 109). Dari ketiga alasan yang dikemukakan Ibnu Hajar ini, kita dapat saja mengatakan bahwa alasan yang ketiga adalah alasan yang lebih wajar dan dapat diterima.
Penyebaran hadis secara lisan dan berkembangnya keengganan menuliskan hadis, tentu saja sedikit tidaknya membawa implikasi pada penyebaran hadis itu sendiri. Wajar bila ada keyakinan bahwa hilangnya sejumlah besar hadis Nabi dalam masa hampir satu abad. Ini merupakan akibat yang alami, karena hafalan bukanlah cara pemeliharaan yang sempurna. Di samping itu, periwayatan dengan makna serta penambahan di sana sini dapat saja terjadi. Rasyid Ridha menyatakan: “Kita memastikan bahwa kita lupa dan kehilangan sejumlah besar hadis Nabi, karena para ulama tidak menuliskan hadis yang didengarnya. Tetapi yang hilang itu tidak termasuk penafsiran al-Qur’an, juga tidak berhubungan dengan masalah-masalah keagamaan.” (Rasyid Ridha, VI:233).
Meskipun Ridha mengakui kaum muslim kehilangan sebagian hadis Nabi, tetapi ia berusaha mengecilkan makna kehilangan itu dengan rekaan bahwa bagian yang hilang itu tidak berarti sama sekali, karena ia bukan masalah-masalah keagamaan. Tanpaknya ini sulit diterima, karena Rasul ditampilkan Tuhan dalam kaitan dengan keagamaan.
Tetapi, M.M.Azami–ahli hadis yang paling menonjol di dunia muslim kontemporer, membantah anggapan umum yang menyatakan penyebaran hadis melalui tulisan. Menurutnya, sejak awal, hadis telah disebarkan oleh sahabat nabi, tidak hanya secara lisan tetapi juga melalui tulisan karena banyak para sahabat yang pandai tulis baca. Bahkan Nabi sendiri dalam kesempatan tertentu mengimlakannya kepada mereka. (M.M. Azami, 1996: 53). Miskonsepsi dan misinterpretasi terhadap istilah haddatsana, akhbarana, ‘an dan lainnya merupakan penyebab munculnya anggapan keterlambatan penyebaran hadis melalui tulisan. Umumnya istilah-istilah ini dipahami dalam pengertian periwayatan secara lisan. Padahal ketiga kata ini menunjukkan metode dokumentasi, yang mengambil beberapa bentuk, seperti penyalinan dari dokumen tertulis, penulisan dari sumber tertulis melalui diktasi, pembacaan dokumen tertulis oleh guru atau murid, periwayatan dokumen secara lisan.
Kita dapat saja menerima keterlambatan penyebaran hadis secara tulisan karena tertundanya pembukuan hadis bila dimaksudkan bahwa penyebaran hadis itu adalah untuk masyarakat luas dan pembukuan (tadwin) dilakukan secara resmi yang dilakukan secara bersama untuk kepentingan bersama, seperti apa yang telah dilakukan pada al-Qur’an. Begitu juga dengan pencatatan (kitabah) hadis jika itu dimaksudkan hanya sebagai cacatatan-catatan yang bersifat pribadi dan untuk kepentingan pribadi atau kalangan terbatas. Bila ini diterima, maka hadis Nabi, meskipun tidak seluruhnya, sebagian besar tentu dapat diselamatkan.
Berbeda dengan kalangan Syi’ah, sejak semula mereka telah meyakini bahwa tradisi penulisan termasuk hadis sudah menjadi fenomena masa yang paling awal dan terus berkembang pada masa-masa berikutnya. Para Imam Syi’ah telah memerintahkan penulisan hadis pada saat tokoh ulama Sunni ternama enggan menuliskan hadis. (Rasul Ja’farian, 1990: 16). Jika dibandingkan dengan Suni, maka hadis Syi’ah tidak mengalami sejenis kelemahan yang berkaitan dengan penundaan penulisan hadis.

MODEL-MODEL LITERATUR HADIS
Meskipun penulisan hadis dapat diyakini telah berjalan sejak periwayatan hadis itu sendiri, tetapi semangat menyeluruh menuliskan hadis-hadis Nabi ini baru muncul dan berkembang belakangan ketika Khalifah Umar ibn Abd al-Aziz yang menjabat Khalifah Bani Umaiyah menginstruksikan kepada para gumbernur untuk mengumpulkan dan menuliskan hadis-hadis. Keluarnya instruksi khalifah inilah dikenal sebagai tonggak sejarah kodifikasi hadis (tadwin al-hadits), yakni kodifikasi hadis-hadis Nabi secara resmi yang dimaksudkan untuk kepentingan bersama. Gerakan kodifikasi hadis ini telah melahirkan semangat baru hingga memunculkan kitab-kitab hadis yang sangat beragam.
Adalah sebuah khazanah yang luar biasa dan kreasi besar para ulama hadis, ketika ditemukan sejumlah literatur-literatur hadis dalam berbagai model dan bentuk. Beragamnya literatur-literatur hadis ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan kepada para pengguna-pengguna hadis untuk dapat dengan cepat menelusuri hadis-hadis Nabi. Atau dalam kemudahan yang lain, orang akan lebih mudah dapat menghitung berapa hadis yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu. Oleh karena itu, penyusunan kitab-kitab hadis dalam model-model tertentu memiliki nilai plus-minus tersendiri.
Meskipun literatur-literatur ini sangat beragam, tetapi dapat dilihat dari berbagai sisi dan model.
A. Literatur Hadis Ditinjau dari Sistematika Penulisan
Klasifikasi literatur-literatur hadis dalam model ini tidaklah klasifikasi mutlak dalam arti di mana satu kitab hadis yang ditulis oleh seorang muhadditsin dapat saja diidentifikasi dalam dua model yang berbeda. Dengan demikian, sebuah kitab hadis dapat berada dalam kelompok tertentu, tetapi pada saat yang saja juga dapat berada dalam kelompok yang lain.
1. Literatur Hadis Yang Ditulis Berdasarkan Topik/Bab
Kitab-kitab hadis dalam kelompok ini ditulis dalam topik-topik hadis, seperti topik yang menyangkut tentang bersuci (thaharah) shalat, zakat dan sebagainya. Dalam model ini, terdapat beberapa nama kitab untuk menyebutkan karakteristik tertentu dari kitab. Oleh karena itu, nilai plus model penyusunan kitab ini terletak pada kemudahan yang diberikan model kitab ini ketika seseorang ingin menemukan hadis-hadis Nabi dalam persoalan-persoalan tertentu.
Dilihat dari kemunculannya, kitab-kitab hadis dalam model ini telah muncul pada pertengahan kedua abad ke-2 H dan mengalami perkembangan yang pesat pada abad ke-3 H.
Di antara literatur yang ditulis dalam model ini adalah apa yang diberi nama Kitab al-Jami’ (كتاب الجامع). Jami’ berarti sesuatu yang menghimpun. Dalam istilah muhadditsin, kitab Jami’ adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan bab yang mencakup topik-topik keagamaan yang lebih luas. Dalam pengertian ini, maka kitab al-Jami tidak hanya mencakup satu bidang keagamaan saja seperti masalah hukum atau akhlak saja, tetapi hampir mencakup seluruh bidang-bidang keagamaan yang lebih luas, seperti: aqidah (keimanan), hukum, sejarah, akhlak, tafsir, terjadinya kiamat dan lain-lain.
Di antara kitab-kitab dalam kelompok ini adalah kitab Shahih Imam al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan al-Tirmidzi. Kitab-kitab ini tidak kurang memuat bab-bab yang disebutkan di atas.
Sebagian ulama menyusun pula literatur-literatur hadis ini dalam bidang hukum yang ditulis juga berdasarkan bab. Model ini disebut Kitab al-Sunan (كتاب السنن). Tentu saja penulisan literatur-literatur kitab hadis model ini akan memberikan kemudahan terutama bagi para sarjana yang berkecimpung dalam persoalan hukum Islam.Kitab-kitab ini antara lain Abu Daud, Sunan al-Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, dan Sunan Ibn Majah.
Tetapi, tampaknya literatur yang lebih awal dalam model penulisan literatur hadis berdasarkan bab adalah al-Muwaththa’ (الموطأ). Secara bahasa al-Muwaththa’ berarti sesuatu yang dimudahkan. Sedang menurut terminologi adalah kitab kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan bab tertentu yang terbatas dalam bidang hukum. Para ulama banyak menulis ktiab-kitab hadis dalam model ini, tetapi yang paling terkenal dan banyak beredar hingga sekarang adalah kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, sehingga seperti yang dikatakan Mustafa Yaqub (1995: 77) ketika disebutkan kitab al-Muwaththa, konotasinya selalu dipahami sebagai kitab Imam Malik.
Al-Mushannaf (المصنف) yang secara bahasa berarti sesuatu yang disusun, juga bagian dari model ini. Mushannaf adalah kitab-kitab hadis yang disusun berdasarkan bab atau tema di mana hadis-hadis mencakup hadis mauquf, maqthu’ yang dimarfu’kan. Kitab-kitab mushannaf yang terkenal antara lain adalah Kitab Mushannaf Abdurrazzaq al-Shan’ani, Mushannaf Abu Bakr ibn Abi Syaibah (Nur al-Din Itr: 200)
2. Literatur Hadis yang Ditulis Berdasarkan Nama Sahabat Periwayat
Dalam model ini, literatur-literatur hadis juga memiliki nama-nama tersendiri di mana nama-nama itu menunjukan pengertian-pengertian tertentu dari literatur-literatur hadis. Karya-karya dalam model ini tentu saja akan memudahkan seseorang untuk menelusuri riwayat-riwayat sahabat tertentu, atau menghitung jumlah riwayat sahabat tertentu. Dari karya-karya yang ada dalam model ini, tampaknya literatur-literatur model ini telah berkembang lebih awal dibading literatur-literatur yang ditulis berdasarkan bab atau tema.
Di antara literatur hadis model ini adalah masanid (المسانيد) (jamak dari musnad) yang secara bahasa berarti sesuatu yang disandarkan. Dalam terminologi muhadditsin, musnad yaitu kitab hadis yang dihimpun berdasarkan hadis-hadis sahabat tertentu dalam satu kelompok dan diatur berdasarkan huruf hijaiyah nama sahabat (al-Katani: 1986: 32). Literatur model musnad ini telah berkembang pada pertengahan abad ke-2. Itu sebabnya beberapa tokoh besar seperti Imam Hanafi, Imam Syafi’I dan Hanbali telah menulis literatur model ini. Tetapi di antara literatur ketiga Imam tersebut, Musnad Imam Hanbali-lah yang tampaknya lebih populer dalam khazanah literatur hadis.
Athraf (اطراف) juga literatur hadis dalam model ini. Secara bahasa athraf berarti pangkal-pangkal. Dalam pengertian ini, maka kitab-kitab Athraf adalah kitab hadis yang disusun berdasarkan nama sahabat dengan menyebut pangkal-pangkal hadis saja sebagai petunjuk matan hadis selengkapnya (Mustafa Yaqub, 1995: 76).
Literatur yang hampir sama dengan athraf adalah juz. Secara bahasa al-juz’u (الجزء) berarti bagian. Sedangkan secara istilah menurut muhadditsin adalah literatur-literatur yang hadis-hadisnya dihimpun dari seeorang sahabat saja atau guru-guru tertentu saja (al-Kattani, 1995: 87). Atau juga dalam istilah lain, yaitu hadis-hadis yang ditulis hanya dalam satu bab tertentu saja. Di antara karya dalam bentuk ini adalah karya yang ditulis oleh Suhail ibn Shalih yang menulis hadis riwayat Abu Hurairah saja.
3. Literatur Hadis yang Ditulis Berdasarkan Awal Matan
Jelas sekali bahwa para muhadditsin mencari kreasi lain dalam model penyusunan literatur-literatur hadis. Mereka menggunakan susunan alfabet dalam menyusun kitab-kitab hadis mereka. Awal matan hadis dijadikan sebagai patokan dan sisusun secara alfabetis huruf hijaiyah. Sistematika penyusunan seperti ini populer dengan nama Mu’jam (معجم). Plus karya model ini, terletak pada kemudahan yang diberikannya ketika seseorang mengetahui awal matan hadis. Tetapi tentu saja akan memberikan kesulitan ketika seseorang tidak mengetahui dengan persis awal matan hadis.
Literatur model ini berkembang pada pertengahan abad ketiga. Pada abad ini terlihat munculnya kitab-kitab mu’jam. Dan yang di antaranya paling populer adalah literatur hadis yang ditulis oleh Imam al-Thabrani yang menulis tiga buah kitab mu’jam, yaitu al-Mu’jam al-Kabir, al-Mu’jam al-Ausath dan al-Mu’jam al-Shaghir (al-Thahan, 1979: 199-120).
B. Literatur Hadis Dilihat dari Materi Hadis
Para ulama hadis memiliki kreatifitas yang tinggi. Sebagian hadis-hadis Nabi yang sudah ada dicarikan jalur sanad tersendiri yang baru dari berbagai guru-guru hadis, atau juga sebagian mereka mencari hadis-hadis lain dengan kriteria-kriteria yang digunakan oleh ulama sebelumnya, atau juga mengumpulkan hadis-hadis Nabi dari karya-karya yang sudah ada untuk dijadikan satu karya tersendiri. Dari sini dapat dilihat betapa tingginya kreatifitas para ulama hadis dalam menyediakan literatur-literatur yang dapat memberikan kemudahan bagi umat.
Salah satu literatur hadis model ini adalah mustadrak (مستدرك), yaitu literatur hadis, di mana hadis-hadisnya tidak dimuat di dalam kitab-kitab lain, tetapi penulisnya mengikuti persyaratan periwayatan hadis yang dispakai oleh kitab yang lain. Mustadrak yang ditulis oleh Imam al-Hakim al-Naisapuri (w. 405H) dengan judul al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain, di mana hadis-hadisnya tidak terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, tetapi dengan memakai kriteria periwayatan hadis yang digunakan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam Shahih-nya.
Model lain dari literatur mustakhraj (مستخرج), yaitu literatur hadis yang disusun dari hadis-hadis yang ada dalam literatur lain, tetapi dengan mencantumkan sanad hadis tersendiri. Terdapat lebih dari sepuluh karya mustakhraj, misalnya karya al-Isma’ili (w. 371 H) yang diberi judul al-Mustakhraj ‘ala Shahih al-Bukhari dan karya al-Isfirayini (w. 310 H) yang berjudul al-Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim.
Sebagian ulama hadis melihat bahwa terdapat pula hadis-hadis yang sama matannya dalam kitab-kitab hadis itu, misalnya hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari terdapat pula riwayat Imam Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi. Tetapi juga terdapat hadis-hadis yang terdapat dalam satu literatur, tidak terdapat dalam literatur-literatur lain. Bagi ulama hadis, ini pun menjadi ladang kreasi, sehingga mereka menulis satu model literatur lain yang diberi nama Zawaid (زوائد), yaitu literatur hadis yang memuat hadis-hadis yang ditulis dalam literatur lain, tetapi tidak terdapat di dalam literatur lainnya (al-Kattani, 1995: 172). Misalnya literatur yang ditulis olehal-Bushairi (w. 480 H) dengan namaMishbah al-Zujajah fi Zawaid Ibn Majah.
Tetapi model literatur yang lebih akhir ditampilkan oleh para ulama hadis adalah literatur yang diberi nama Majma’ (مجمع). Ini dapat dikatakan terobosan baru dengan menggabungkan kitab-kitab hadis yang sudah ada. Di antara literatur ini ada yang menggabungkan dua literatur hadis yang sudah ada atau bahkan sampai menggabungkan enam literatur hadis yang ada. Salah satu contoh litertur ini adalah al-Jam’u bin al-Shahihain karya al-Humaidi (w. 188 H) yang menggabungkan Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim. Demikian pula karya Ibn ‘Atsir (w. 606 H) yang menggabungkan enam kitab hadis dengan judul al-Jam’u bain al-Ushul al-Sittah (al-Thahan: 117-118).

BEBERAPA ISTILAH UNTUK LITERATUR HADIS
Dari literatur-literatur hadis tersebut, ada sembilan kitab hadis yang mu’tamad, yakni kitab hadis yang dijadikan rujukan di dalam melacak hadis-hadis Nabi. Sembilan kitab hadis ini disebut dengan istilah al-kutub al-tis’ah (الكتب التسعة). Sembilan kitab hadis ini adalah Kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, Al-Muwaththa’, Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal, dan Sunan al-Darimi.
Di samping istilah al-Kutub al-Tis’ah di atas, terdapat juga beberapa istilah lain. Istilah al-Shahihain (الصحيحين) merujuk pada dua kitab Shahih, yaitu Kitab Shahih al-Bukhari dan Kitab Shahih Muslim. Istilah al-Ushul al-Khamsah (الأصول الخمسة) (lima kitab pokok) merujuk pada Kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Tirmidzi, dan Sunan al-Nasa’i (Hasbi, 1988: 104). Kitab ini disepakati sebagai kitab standar dalam pengertian bahwa kitab-kitab hadis ini merupakan kitab pokok yang dapat diterima sebagai sumber rujukan hadis-hadis Nabi, terutama dari sisi kualitas hadisnya. Di samping itu, kitab-kitab ini telah mencakup sebagian besar hadis-hadis Nabi dengan sistematika penyusunan yang cukup baik.
Al-Kutub al-Sittah (الكتب الستة) (enam kitab) merujuk pada enam kitab hadis, yaitu Kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, dan Sunan Ibn Majah. Tetapi untuk istilah ini terdapat perbedaan pendapat para ulama. Sebagian menyatakan bahwa Sunan Ibn Majah tidak masuk dalam istilah al-kutub al-sittah. Pendapat yang memasukan Sunan Ibn Majah dalam istilah al-kutub al-sittah adalah pendapat Ibn Hajar dan al-Mizzi. Sementara Ibn al-Atsir memasukan kitab al-Mutwaththa’ Malik, sedangkan satu pendapat lagi seperti yang dikutip Hasbi (1988: 105) memasukan Sunan al-Darimi untuk istilah al-kutub al-sittah.
Sedangkan istilah al-Kutub al-Sab’ah (الكتب السبعة) (tujuh kitab) merujuk pada Kitab Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abi Daud, Sunan Tirmidzi, Sunan al-Nasa’i, Sunan Ibn Majah, dan Musnad Imam Ahmad ibn Hanbal.

PENUTUP
Literatur-literatur hadis dalam bentuknya yang sederhana dan pribadi sesungguhnya telah ada sebelum masa kodifikasi hadis itu sendiri. Dari sini, maka dapat dinyatakan bahwa penukilan hadis sebelum masa kodifikasi tidak semata-mata berlangsung secara lisan tetapi juga tulisan.
Di sisi lain, begitu beragamnya model literatur-literatur kitab hadis yang ada, baik dilihat dari sisi sistematika penulisan maupun kandungan hadis-hadisnya, menunjukan bahwa para muhadditsin sangat kreatif dalam melahirkan literatur-literatur hadis. Kreatifitas yang tinggi dari para muhadditsin haruslah diapresiasi sebagai upaya mereka yang sungguh-sungguh untuk memudahkan umat dalam mengakses hadis-hadis Nabi sehingga dapat dipahami dan diamalkan.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Rahman Fazlur, Islam, Penerbit Putsaka, Bandung, 1984
M.M. Azami, Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya, Judul Asli: Studies In Early Hadith Literatur, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1994
Ash Shiddieqy, M. Hasbi, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadits, Penerbit Bulan Bintang, Jakarta, 1988
al-Thahan, Mahmud, Ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid, Mathba’ah al-Arabiyah, al-Halb, 1978
(al-Kattani, Muhammad ibn Ja’far, al-Risalah al-Mustathrafah li Bayani Masyhur Kitab al-Sunnah al-Mushannafah, Dar al-Basyair al-Islamiyah, Beirut, 1986
Yaqub, Ali Mustafa, Kritik Hadis, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1995
Itr, Nur al-Din, Manhaj al-Naqdi fi ‘Ulum al-Hadits, Dar al-Fikr, Beirut.