Artikel 5

PENGUJIAN  HADIS AHAD SEBAGAI SUMMBER HUKUM

Maizuddin M. Nur

Abstrak: pengujian hadis ahad di kalangan ulama terutama sekali di kalangan fuqaha memunculkan banyak teori. Masing-masing ulama menggunakan teori yang berbeda. Penggunaan teori-teori yang berbeda ini membawa konsekuensi hukum yang berbeda. Tetapi, harus dipahami bahwa, teori-teori yang dimunculkan itu dalam kerangka memahami keinginan Allah dan Rasul.

Sejak awal hadis Nabi telah diterima dan mendapat perhatian yang cukup serius serta menjadi rujukan utama setelah al-Qur’an. Terdapat banyak riwayat tentang antusias masyarakat muslim awal terhadap hadis. Umar menceritakan bahwa ia berganti-gantian dengan tetangganya dari kalangan Anshar menghadiri majelis Nabi dan mereka saling menyampaikan apa yang ia dengar dari Nabi (Fath al-Bari: I. 195). Di sisi lain, terdapat banyak sahifah-sahifah yang sudah masyhur dalam sejarah hadis yang ditulis oleh para sahabat. Muhammad Musthafa A’zhami (1994: 132-200) mencatat tak kurang dari 52 orang sahabat yang memiliki catatan-catatan hadis. Penerimaan yang begitu kuat terhadap hadis ini didorong kuat oleh al-Qur’an, tidak hanya hadis intra Qur’ani, tetapi juga terhadap hadis-hadis ektra Qur’ani.
Pada awalnya, hadis tidak mendapat persoalan yang begitu serius. Tetapi, setelah masyarakat muslim semakin berkembang, sementara periwayatan hadis berjalan simultan dengan perkembangan kaum muslim itu sendiri, hadis mulai mengalami persoalan-persoalan. Persoalan yang paling fundamental adalah persoalan validitas hadis itu sendiri sebagai sesuatu yang bersumber dari Nabi. Persoalan ini dipicu oleh beberapa realitas yang terjadi di kalangan masyarakat muslim, seperti: mata rantai sanad hadis yang semakin panjang dan berkembang, munculnya pemalsu-pemalsu hadis, periwayatan hadis secara lisan dan lain-lain.
Tiba di sini para sarjana mulai membuat kriteria-kriteria pengujian hadis. Pertama hadis diuji validitasnya dari mata rantai pembawanya (sanad), kemudian diuji pula redaksinya (matannya) dalam kaedah-kaedah musthalah, yaitu apakah hadis tersebut mengandung cacat (‘illat) atau kejanggalan (syadz). Tetapi, para fuqaha yang berkepentingan menggunakan hadis sebagai sumber hukum, tidak berhenti pada pengujian yang ditetapkan oleh muhadditsin. Mereka menambah beberapa kriteria pengujian lagi sehingga hadis betul-betul diyakini sebagai sesuatu yang bersumber dari Nabi dan dapat dijadikan sebagai hujjah.
Artikel ini mencoba mendeskripsikan praktek pengujian hadis dari kalangan fuqaha beserta perbedaan yang terjadi di antara mereka, terutama antara fuqaha Hanafi-Maliki dengan Syafii.

HADIS SEBAGAI SUMBER HUKUM
Al-Qur’an benar-benar memberikan otoritas yang tak terbantahkan kepada Nabi untuk menjelaskan al-Qur’an. Bagaimana tidak penjelasan-penjelasan al-Qur’an yang lebih banyak bersifat aturan-aturan dasar dan prinsip-prinsip membutuh penerjemah aturan tersebut dalam tataran praktis. Itu sebabnya al-Qur’an menjelaskan bahwa ia diturunkan agar dapat dijelaskan oleh Nabi kepada manusia.
… وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُون (النحل: 44)
…Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an, agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan (Q.S. al-Nahl: 44)
Adalah kenyataan bahwa banyak petunjuk-petunjuk al-Qur’an telah dijelaskan oleh hadis-hadis Nabi, sehingga dapat dilaksanakan oleh masyarakat muslim dengan baik. Para ulama melihat ada dua bentuk bayan al-Qur’an yang tidak diperselisihkan, yaitu bayan ta’kid dan bayan tafsir. Bayan ta’kid adalah hadis-hadis Nabi yang memberikan penegasan terhadap apa yang sudah dinyatakan oleh al-Qur’an. Jadi di sini, hadis tidak membuat perincian. Sebagai contoh, ketentuan awal puasa yang disebutkan oleh al-Qur’an: “Barangsiapa di antara kamu menyaksikan bulan itu (hilal), maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu… (Q.S. al-Baqarah: 185)
Hadis Nabi memberikan pengesan terhadap pernyataan al-Qur’an dengan mengatakan jangan berpuasa kecuali bila sudah melihat hilal.
لا تَصوموا حتّى تَرَوُا الهلالَ, ولا تُفطِروا حتّى تَرَوْه, فإِن غُمّ عليكم فاقدُروا له (رواه البخاري ومسلم) (Abd al-Baqi: II. 3).
Janganlah kamu berpuasa sehingga kamu melihat hilal (bulan Ramadhan), dan jangan pula berhari raya sehingga kamu juga melihat hilal (bulan Syawal). Jika tertutup awan, maka perkirakan sajalah (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sedangkan bayan tafsir adalah hadis-hadis yang membuat perincian, pembatasan, atau aturan-aturan teknis terhadap perintah al-Qur’an. Sebagai contoh perintah shalat. Al-Qur’an hanya memerintahkan agar orang-orang yang beriman melaksanakan shalat, tetapi tidak merinci bagaimana cara melakukan shalat. Oleh karena itu hadis menjelaskan teknis pelaksanaan shalat.
عَنْ أَبِـي هُرَيْرَةَ قال: قَالَ رسول الله صلى الله عليه وسلم: إذَا قُمْتَ إلَى الصّلاَةِ فَكَبّرْ ثُمّ اقْرَأْ مَا تَيَسّرَ مَعَكَ مِنَ الْقُرْآنِ ثُمّ ارْكَعْ حَتّى تَطْمَئِنّ رَاكِعا ثُمّ ارْفَعْ حَتّى تَعْتَدِلَ قَائِما ثُمّ اسْجُدْ حَتّى تَطْمَئِنّ سَاجِدا ثُمّ ارْفَعْ حَتّى تَطْمَئِنّ جَالِسا ثُمّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلّهَا. (Abd al-Baqi: I. 81).
Hadis riwayat Abu Hurairah, katanya: Rasulullah saw bersabda: Bila kamu hendak melaksanakan shalat, maka mulailah dengan takbir, kemudian baca ayat al-Qur’an yang dapat kamu baca, kemudian ruku sehingga sempurna, lalu tegak kembali sehingga lurus, setelah itu sujud dengan sempurna, kemudian duduk sehingga sempurna. Begitulah setiap shalat yang kamu kerjakan. (Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku`lah beserta orang-orang yang ruku (H.R. Bukhari dan Muslim)
Sedangkan posisi hadis yang dipersepsi secara berbeda adalah hadis-hadis yang menjadi bayan tasyri’, yakni hadis-hadis yang menetapkan ketentuan hukum baru yang tidak disebutkan oleh al-Qur’an. Sebagai contoh, penetapan keharaman memakan binatang buas dan burung yang berkuku tajam. Keharaman kedua kelompok binatang ini tidak disebutkan dalam al-Qur’an, tetapi hanya ketentuan yang datang dari Nabi.
Posisi hadis yang demikian pentingnya di dalam kehidupan kaum muslimin, membuat ia diterima dan sangat diperhatikan oleh masyarakat muslim awal. Itu sebabnya terdapat banyak riwayat tentang antusias para sahabat dalam mendapatkan sabda-sabda nabi. Di samping itu, kesadaran yang kuat akan pentingnya hadis, diperkuat pula oleh al-Qur’an yang menyatakan: Apa yang diberikan Rasul kepadamu ambillah, dan apa yang dilarangnya, hentikanlah (QS. Al-Hasyr/59: 7).
Begitu kuatnya kesadaran akan pentingnya hadis-hadis Nabi, para sahabat melakukan pemeliharaan terhadap hadis-hadis nabi dengan berbagai cara. Para sarjana di bidang hadis mengungkapkan bahwa pemeliharaan hadis tidak hanya dilakukan dengan cara penghafalan, tetapi juga pencatatan-pencatatan secara pribadi (kitabah) dan pengamalan-pengalaman langsung dalam kehidupan sehari-hari

PRAKTEK PENGUJIAN HADIS DI KALANGAN SAHABAT
Pengujian redaksi (matan) hadis sebenarnya sudah dilakukan sejak awal sekali, bahkan dari kalangan sahabat sudah terlihat pengujian-pengujian yang mereka lakukan. Dari beberapa kasus yang dicermati, terlihat bahwa pengujian hadis yang dilakukan sahabat adalah dengan al-Qur’an serta hadis-hadis yang lebih kuat dan masyhur yang terkadang diperkuat dengan argumen rasioanal dalam bentuk analogi. Pengujian hadis dengan al-Qur’an ini, bahkan pernah dilakukan oleh Aisyah terhadap hadis yang sedang disampaikan oleh Rasulullah sendiri.
Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang dihisab pasti akan diazab”. Aisyah menyela: “Bukankan Allah telah berfirman: “Mereka (orang beriman) akan dihisab dengan hisab yang sangat mudah (al-Insyiqaq: 8).” Rasul lalu bersabda kembali: “Itu hanya sepintas, tetapi orang yang dihisab secara ketat, pasti akan sengsara. (Abd al-Baqi: III. 299).
Salahuddin Ibnu Ahmad al-Adhabi (2004: 85-112), mencatat beberapa orang sahabat yang melakukan kritik terhadap hadis yang diriwayatkan oleh sahabat lain. Mereka antara lain adalah Siti Aisyah, Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas’ud, dan Abdullah ibn ‘Abbas. Tetapi, di antara sekian sahabat yang melakukan pengujian terhadap hadis ini, yang paling intens adalah Siti Aisyah.
Beberapa hadis yang dilakukan pengujiannya oleh Aisyah antara lain adalah riwayat Abu Hurairah, riwayat Umar bin Khatab, Ibnu Umar dan Jabir. Tetapi yang paling riwayat yang paling banyak diuji oleh Aisyah adalah riwayat Abu Hurairah. Di antara riwayat tersebut adalah:
1. Riwayat Abu Hurairah tentang sabda Nabi: “Seorang mayat akan disiksa karena tangisan keluarganya yang masih hidup”. Riwayat Abu Hurairah ini diuji oleh Aisyah dengan firman Allah: “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain” (Q.S. al-An’am: 164). Karena itu Aisyah menolak riwayat yang dikemukakan oleh Abu Hurairah tersebut (Al-Adhabi. 2004: 89).
2. Riwayat Abu Hurairah: “Barang siapa yang tidak melaksanakan witir, maka tiada shalat baginya”. Pada riwayat ini Aisyah tidak mengujinya dengan al-Qur’an tetapi mengujinya dengan riwayat yang lebih masyhur yang menyatakan shalat wajib lima kali sehari. Seandainya riwayat ini benar, tentu shalat yang diwajibkan adalah enam kali (Al-Adhabi. 2004: 92).
3. Riwayat Jabir yang menyatakan Rasulullah bersabda: “(Kewajiban mandi dengan) air diakibatkan (karena keluarnya) air (mani).” Riwayat Jabir ini diuji oleh Aisyah dengan sabda Nabi yang lain: “Bila suatu alat kelamin telah melampaui kelamin lainnya (bersetubuh), maka telah wajib mandi.” Aisyah pun memperkuat dengan argumen dalam bentuk pertanyaan: “Apakah hal itu (bersetubuh tanpa mengeluarkan air mani) mewajibkan rajam, tetapi tidak mewajibkan mandi?” (Al-Adhabi. 2004: 100)

PRAKTEK PENGUJIAN HADIS DI KALANGAN MUHADDITSIN
Kriteria pengujian hadis yang dikemukakan oleh muhaddistin, lebih berorientasi dalam studi-studi kaedah musthalah. Harus diakui bahwa pengujian-pengujian hadis ini sulit dilakukan. Di sampaing itu besar peluang bagi subjektivitas penguji. Karena itu sangat memberi peluang terjadinya keragaman dan perbedaan dalam kesimpulan pengujian hadis.
Bila pengujian hadis di kalangan sahabat terlihat dalam bentuk praktis, maka pengujian hadis di kalanganan muhadditsun terlihat dalam bentuk memberikan beberapa penjelasan seputar pengujian hadis ini. Pengujian hadis dengan al-Qur’an dapat dilakukan bila hadis dapat dipastikan menyalahi al-Qur’an. Oleh karena itu, bila salah satunya, baik al-Qur’an maupun hadis mengandung kemungkinan ta’wil maka tidak ada alasan untuk menolak hadis tersebut, sebab masih terdapat kemungkinan untuk memahaminya dengan pendekatan korelasional.
Pengujian hadis yang dilakukan muhadditsin lebih berkembang dari pengujian yang dipraktekan sahabat. Bila para sahabat melakukan pengujian hadis terbatas pada pengujian dengan al-Qur’an dan riwayat yang lebih kuat, maka muhadditsin menambahkan dua kriteria lagi, yaitu pengujian dengan sirah nabawiyah yang sahih, akal, indra dan sejarah. Jadi sirah Nabawiyah yang sahih, akal, indra dan sejarah merupakan penguji atas hadis-hadis Nabi. Bila bertentangan dengan kriteria-kriteria penguji ini, maka ulama hadis menganggap ada kekeliruan dalam hadis tersebut sehingga dapat ditolak.
Hadis-hadis yang tertolak dengan berbagai kriteria pengujian ini misalnya: 1) salah satu riwayat Bukhari yang menceritakan kejadian Isra’ dan Mi’raj sebelum turunnya wahyu (kenabian) (Al-Adhabi. 2004: 249). Riwayat ini menyalahi sirah Nabawiyah yang menyatakan bahwa Isra terjadi setelah kenabian, dan ini telah disepakati. 2) Riwayat Ibnu Majah yang menjelaskan Nabi Nuh puasa dahr (setahun penuh) kecuali hari Idul Fithri dan Idul Adha (Al-Adhabi. 2004: 255). Hadis ini menyalahi akal fikiran, karena tidak mungkin Nabi Nuh mengajar praktek puasa kepada kaumnya selama satu tahun. 3). Riwayat Tirmizi yang menyatakan bahwa Hajar Aswad turun dari surga dalam bentuk yang putih, tetapi dosa-dosa anak Adam telah membuatnya menjadi hitam (Al-Adhabi. 2004: 261). Hadis riwayat al-Hakim yang mengungkapkan pernyataan Ali bin Abi Thalib: “Aku menyembah Allah bersama Rasulullah selama tujuh tahun sebelum ada seorang pun dari umat ini menyembah-Nya (Al-Adhabi. 2004: 267). Dari kenyataan sejarah khadijah, Abu Bakar bersama Ali bin Abi Thalib adalah orang yang paling awal masuk Islam, langsung setelah Nabi menerima wahyu dari Allah. Jadi bagaimana bisa berselang sampai selama 7 tahun?

PRAKTEK PENGUJIAN HADIS DI KALANGAN FUQAHA
Kriteria pengujian hadis Pengujian hadis di kalangan fuqaha jauh lebih. Di sini terlihat fuqaha yang paling banyak memiliki kriteria pengujian hadis adalah fuqaha dari kalangan mazhab Hanafi dan mazhab Maliki. Kriteria pengujian hadis tersebut adalah:
1. Pengujian Hadis Ahad dengan Al-Qur’an
Pengujian hadis ahad dengan al-Qur’an terutama sekali dimajukan oleh kalangan fuqaha Hanafi. Menurut mereka hadis ahad jika menyalahi al-Qur’an secara jelas, maka hadis tersebut tidak dapat dijadikan sebagai hujjah. Kriteria ini seperti yang diungkapakan Masfar ‘Azmillah al-Damini (1984: 288) didasarkan kepada pernyataan Rasul sendiri yang menjelaskan jika sebuah hadis diriwayatkan maka bandingkanlah ia dengan al-Qur’an, jika sejalan maka terimalah dan jika bertentangan, maka tolaklah.
Hadis-hadis yang menyalahi al-Qur’an ini disebut sebagai hadis munqathi’ al-bathin (al-Damini: 1984: 290). Sebagai contoh hadis tentang sembelihan:
ذِبْحُ المُسْلِمِ عَلىَ اسمِ اللهِ يُسَمَّى أوْ لمَ ْيُسَمْ
Sembelihan seorang muslim adalah atas nama Allah, baik disebutkannya nama Allah atau tidak (ketika penyembelihan itu).
Hadis ini menurut ulama Hanafi menyalahi zahir ayat al-Qur’an yang menyatakan bahwa sembelihan harus dilakukan dengan menyebut nama Allah. Firman Allah:
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ… (الأنعام: 121)
Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan… (Q.S. al-An’am: 121)
Zhahir ayat ini jelas dan tegas sehingga mudah dipahami maknanya oleh setiap orang. Karena itu tidak boleh lagi ditakhsis dan ditaqyid.
Imam Syafi’i menolak teori Hanafi ini. Menurutnya hadis ahad dapat saja mentakhsis bahkan dapat menetapkan hukum baru di luar al-Qur’an (Abd Muthalib. 1981: 302). Tidak ada hadis yang bertentangan dengan al-Qur’an. Karena itu, hadis tidak boleh ditolak jika secara ilmu musthalah sudah memenuhi kriteria kesahihan. Jika terlihat bertentangan, maka penyelesaiannya adalah dalam bentuk takhsis dan taqyid.

2. Pengujian Hadis Ahad dengan Hadis Masyhur
Hadis masyhur menjadi penguji hadis ahad, menurut kalangan Hanafi, adalah karena hadis masyhur bersifat yaqin al-qalbi, sedangkan hadis ahad lebih bersifat ilm al-zhann. Dari sini, maka hadis masyhur lebih dekat hubungannya kepada Nabi (Abd al-Muthalib: 1981: 322).
Hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah memutuskan perkara berdasarkan saksi dan sumpah, ditolak di kalangan Hanafi, karena hadis ahad ini menyalahi hadis masyhur di mana Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya barang bukti diajukan oleh si penggugat, dan sumpah dibebankan kepada si tergugat”.
Imam Syafi’i juga menolak teori Imam Hanafi ini. Hadis ahad tidak boleh ditolak begitu saja. Seperti halnya terhadap al-Qur’an, hadis-hadis ahad juga dapat berfungsi sebagai takhsis dan taqyid. Jadi menurut Imam Syafi’I, dalam kasus-kasus tertentu, diperbolehkan memutuskan perkara dengan saksi dan sumpah.
Bila terlihat pertentangan dengan hadis lainnya, baik ahad maupun masyhur, maka dilakukan dengan beberapa penyelesaian. Edi Safri (1999: 97) menyatakan bahwa secara umum cara yang ditempuh oleh Syafi’i dalam menyelesaikan hadis-hadis yang kelihatan bertentangan adalah dengan jalan kompromi, nasakh dan tarjih.

3. Pengujian Hadis Ahad dengan Amal Sahabat
Di kalangan Hanafi dan Maliki amal sahabat memiliki kekuatan atas pengujian hadis ahad. Tetapi berbeda dengan Hanafi, Maliki mengkhususkan amal sahabat yang menjadi penduduk Madinah, yang diteruskan oleh generasi berikutnya hingga Imam Malik.
Kriteria ini digunakan, karena hadis yang diriwayatkan oleh sabahat di mana seorang sahabat tersebut tidak mengamalkannya mengindikasikan hadis tersebut lemah. Dalam hal ini Imam Hanafi menolak hadis riwayat Abu Hurairah yang menyatakan pencucian bejana yang dijilat anjing sebaganya 7 kali, sementera dalam prakteknya Abu Hurairah hanya membasuh jilatan anjing sebanyak 3 kali saja (al-Damini, 1984: 407) .
Imam Malik menggunakan amal ahli madinah karena menurutnya amal penduduk Madinah merupakan rekaman ulang amal kehidupan Rasulullah saw. Argumennya adalah karena Rasulullah hidup di Madinah, di mana wahyu banyak diturunkan dan hadis disabdakan Rasul. Imam Malik misalnya menolak hadis yang menyatakan tidak sah nikah tanpa wali, karena masyarakat Madinah melaksanakan pernikahan tanpa wali.
Imam Syafi’i menolak amal sahabat dan amal penduduk Madinah sebagai kriteria pengujian hadis ahad. Amal sahabat dan penduduk negeri lainnya juga bersumber dari Rasulullah yang diajarkan dan disampaikan oleh sahabat-sahabat Nabi (Abd al-Muthalib, 1981: 381).

4. Pengujian hadis Ahad dengan Qiyas Jali
Qiyas jali adalah menganalogikan satu ketentuan di dalam nash dengan sesuatu yang lainnya karena adanya illat (sifat rasional). Misalnya menganologikan gandum dengan padi. Qiyas jali ini, menurut sebagian fuqaha, Imam Hanafi dan Maliki merupakan penguji atas hadis ahad. Alasannya adalah bahwa hukum yang dihasilkan dari analog tersebut memiliki sifat yang qath’i seperti hukum asalnya yang teradapat dalam nash, sementara hadis ahad bersifat zhanni (al-Damini. 1984: 430).
Salah contoh pengujian hadis ahad dengan qiyas jali ini adalah hadis yang menyatakan jilatan anjing harus dibasuh tujuh kali. Imam Malik mengqiyaskan jilatan anjing ini dengan halalnya memakan hasil buruan anjing seperti yang disebutkan al-Qur’an. Binatang buruan anjing tersebut tentulah bercampur dengan ludahnya. Tidak ada nash yang menyatakan untuk membuang bagian yang digigit anjing tersebut .
Imam Syafi’i memandang bahwa qiyas jali dihasilkan dari kerja ra’yu, sementara ra’yu sendiri sifatnya relatif. Berhujjah dengan dalil naqli, lebih kuat dari berhujjah dengan ra’yu (al-Dimini. 1984: 432).

5. Pengujian Hadis Ahad dengan ‘Umum al-Balwa
‘Umum al-balwa adalah persoalan-persoalan syara’ yang seharusnya diketahui setiap orang. Hal ini karena persoalan-persoalan tersebut berkenaan dengan semua orang. Sebagai contoh adalah menyentuh kemaluan setelah berwudhu’, apakah akan membatalkan wudhu’ atau tidak.
Kelompok ulama Hanafiah menjadikan ‘umum al-balwa sebagai penguji hadis ahad. Alasannya hadis-hadis yang berkaitan dengan ‘umum al-balwa mestilah diriwayatkan secara mutawatir atau masyhur. Karena itu jika hadis menyangkut persoalan ‘umum al-balwa diriwayatkan secara ahad, tidak dapat diterima. Seperti contoh di atas, hadis yang menyebutkan menyentuh kemaluan membatalkan wudhu’ tidak dapat diterima (al-Damini. 1984: 479)
Pendapat kelompok Hanafiah ini bertolak belakang dengan jumhur ulama ushul, fuqaha dan muhadditsin, di mana mereka tidak membedakan persoalan ‘umum al-balwa dengan yang bukan ‘umum al-balwa (al-Damini. 1984: 476) Karena itu bagi mereka tidak ada persoalan dengan hal ini.

6. Pengujian Hadis Ahad dengan Al-ushul al-‘Ammah
Al-ushul al-‘ammah adalah kaedah-kaedah yang umum yang disimpulkan dari al-Qur’an dan hadis dan selaras dengan ruh dan tujuan syara’.
Kalangan Hanafiah dan Malikiah menggunakan al-ushul al-‘ammah ini sebagai penguji hadis ahad. Karena itu, mereka menolak hadis yang menyatakan “Barangsiapa yang meninggal, sedangkan dia memiliki kewajiban puasa, maka hendaklah walinya melaksanakan kewajiban puasa tersebut”. Karena hadis ini bertentangan dengan kaedah umum, yakni tidak memberi manfaat atau mudharat kepada seseorang, kecuali apa yang telah ia lakukan. Kaedah ini disimpulkan dari ayat yang menyatakan bahwa seseorang tidak memperoleh sesuatu, kecuali apa yang telah dia usahakan (al-Damini. 1984: 362).

KESIMPULAN
Pengujian hadis telah dilakukan sejak awal sekali. Sahabat-sahabat Nabi melakukan praktek ini untuk menguji validitas hadis. Demikian pula muhadditsin juga telah terlihat mempraktekan pengujian sunnah ini. Jelas sekali bahwa pengujian hadis di kalangan muhadditsin lebih luas dibanding dibanding kritik di kalangan sahabat, karena meliputi pengujian dengan sirah nabawiyah, akal, indra dan sejarah.
Sebagian fuqaha menggunakan menggunakan kriteria yang jauh lebih luas dibanding muhaddistin, di samping menggunakan kriteria muhadditsin, fuqaha juga menggunakan kriteria seperti praktek sahabat, qiyas, ‘umum al-balwa, dan al-ushul al-ammah.
Pengujian ini tentu saja dalam maksud-maksud yang positif, yakni untuk memperoleh keyakinan dan kepastian riwayat bersumber dari Rasulullah sebagai dalil penetapan hukum.

DAFTAR RUJUKAN
al-Damini Musfir ‘Azmullah, Maqayis Naqdi Mutun al-Sunnah, Jamaah Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah, Riyad, 1984
Abd al-Muthalib Rif’at Fauzi, Tawtsiq al-Sunnah fi Qarni al-Tsani al-Hijri Asasuhu wa Iftijahuhu, Maktabah al-Khanatiji, 1981
Al-Adhabi, Salahuddin Ibn Ahmad, Metodologi Kritik Matan Hadis (terj. H.M.Qadirun Nur), Gaya Media Pratama, Jakarta, 2004
Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, Al-Lu’lu’ wa al-Marjan, Dar al-Fikri, Beirut, t.t. Jilid I, II dan III.
Edi Safri, Al-Imam al-Syafi’i, Metode Penyelesaian Hadis-Hadis Mukhtalif, IAIN IB Press, 1999