Membangun Keluarga

Setelah bekeluarga, rasanya kehidupan makin sempurna.  Itu mungkin makna perintah Allah dalam surat ar-Rum ayat 21: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. Saya berusaha mencintai keluarga saya dan menjadi ayah yang benar-benar menyayangi dan berarti bagi keluarga. Dan itu akan membuat hidup saya menjadi lebih bermakna. Bukankah Nabi bersabda: orang yang paling baik adalah yang paling baik bagi keluarganya (H.R. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Thabrani).

November 2000 anak saya yang pertama lahir. Allah memberi kami seorang putra. Kami memberi nama dengan Jundy Mardhatillah. Dengan nama Jundy kami berharap ia mampu berjihad di jalan Allah. Adapun Mardhatillah, doa kami mudah-mudahan ia menjadi orang yang senantiasa diredhai Allah. Empat tahun kemudian, tepatnya November 2004—setelah kami menempati rumah kami sendiri, meskipun kecil—kami kembali dikarunia seorang putri. Kami memberinya nama Fathiya Marhatillah. Fathiyya berarti kemenangan sedangakan, sedangkan mardhatillah berarti diredhai Allah.

Isteri, anak-anak adalah amanah Allah yang harus dipertanggung jawabkan. Oleh karena itu, setiap kita menjadi kepala keluarga akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah. Kesuksesan seseorang, keberhasilan seseorang dapat dilihat dari usaha yang dilakukan dalam menjalankan amanah Allah.  Tetapi di sisi lain, Allah juga mengingatkan bahwa isteri dan anak-anak juga dapat menjadi hambatan dari mengingat Allah. Bahkan lebih jauh dari itu, dapat menjebak manusia untuk melakukan maksiat kepada Allah. Na’udzu bi Allah.

Kini, tanpa terasa anak-anak kami sudah mulai beranjak remaja.  Tetapi seiring dengan hal itu, saya mulai cemas memikirkan mereka, karena situasi sosial dimana kami sebagai orang tua pernah ada, maksud saya masa kecil, sangat jauh berbeda dengan masa sekarang. Banyak hal-hal yang dahulu tabu, dianggap wajar dan lumrah. Bahkan hal-hal yang bertentangan dengan nilai-nilai agama sekalipun dianggap wajar. Kemajuan teknologi terutama dunia informasi  yang semakin maju sekaligus juga menawarkan sisi dampak negatif di samping manfaat positifnya.   Kecemasan saya didasari atas pernyatan Rasul yang menyatakan: Sungguh kamu akan mengikuti tradisi-tradisi sebelumnya sedikit demi sedikit, hingga mereka masuk ke lubang biawak sekalipun (H.R. Bukhari dan Muslim). Oleh karena itu, kesadaran kita sebagai orang tua untuk terus menunjukan budaya Islam adalah sesuatu yang sangat mendesak dan bahkan bisa menjadi pekerjaan yang paling utama orang tua.

Padang, Akhir Maret 2010