Menempuh Pendidikan Sarjana (S1)

Setelah lulus Madrasah Aliyah tahun 1990, saya berangkat ke Banda Aceh untuk melanjutkan pendidikan di Perguruan Tinggi. Saya memilih Jurusan Perbandingan Mazhab Fakultas Syari’ah IAIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh. Awalnya ada keinginan untuk memilih Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadis, tetapi pilihan saya akhirnnya jatuh pada Fakultas Syari’ah.

Mahasiswa Jurusan Perbandingan Mazhab pada waktu itu termasuk mahasiswa yang paling sedikit dibanding jurusan-jurusan lainnya. Di sini saya bertemu dengan teman-teman satu jurusan: Muslim Djuned, Muslim Sibreh, Tantawi Nawawi, M. Nur, Herwito, Buchari Wahab, Walius, Fadhil Usman, Yasmawati, Husni Nurhanifah.  Ada juga teman-teman angkatan saya yang dari negeri seberang, Malaysia: Nurdin bin Yusro, Saiful dan dua orang teman lagi yang saya lupa namanya.

Di Fakultas Syari’ah saya dapat menyelesaikan kuliah tepat pada waktunya, 4 tahun. Saya menulis skripsi dengan judul: Sistematika dan Persentese Bab-Bab Kitab Fiqh (Studi Perbandingan Mazhab). Skripsi ini mengkaji bagaimana penyusunan bab-bab kitab fiqh oleh para fuqaha mazhab, mulai dari pembagian, penamaan, dan penyusunan bab-bab kitab. Di samping itu, bab-bab tersebut juga dihitung persentase halamannya.  Judul ini saya angkat dari diskusi di dalam perkuliahan yang dipandu oleh Bapak Alyasa Abu Bakar dengan satu pertanyaan: Kalau kita membaca tentang jihad, kita harus mencarinya pada pembahasan tentang apa? Bab ibadahkah, muamalah, munakahat, atau jinayat? Pertanyaan ini menggelitik saya. Dan memang beliau adalah dosen favorit saya,  yang setiap perkuliahan yang diberikannya hampir selalu menggelitik dan membuka pikiran saya.

Ada hal yang menarik dari kajian ini, misalnya: para fuqaha Syafi’i cenderung meletakan bab jihad pada  bab ibadah. Sementara fuqaha hanafi menjadikan pembahasan tentang jihad sebagai sub bagian dari uqubah. Demikian pula pada persentase penulisan halaman, juga terdapat hal menarik. Fuqaha Syafi’i  membagi bab fiqh menjadi empat bagian yang sama sehingga menjadi masing-masing menjadi seperempat disebut dengan istilah rubu’. Tetapi ketika dilihat persentasenya, bab ibadah yang merupakan satu bagian dari tiga bagian lainnya, pada umumnya ditulis dalam halaman yang lebih banyak. Kebanyakan kitab-kitab fuqaha Syafi’i menghabiskan lebih dari  50% halaman kitab fiqh.

Di samping mengikuti perkuliahan, saya juga mengikuti kursus Bahasa Arab dan Inggris. Yang masih saya ingat adalah tempat kursus Bapak A Mufakir Muhammad. Ada beberapa guru yang saya ingat di sini, yaitu: Bapak A Mufakir Muhammad sendiri dan Ahyar Zain.  Bapak Muakir adalah sudah dosen Fakultas Tarbiyah, tetapi Ahyar Zain adalah guru saya yang juga ketika itu sama-sama seangkatan dengan saya yaitu angkatan 1990.

Selesai menempuh pendidikan S1, saya mengikuti Program Studi Purna Ulama (SPU) yang dilaksanakan oleh IAIN Ar-Raniry Banda Aceh.  Di sini pendidikan ditempuh secara cuma-cuma. Teman-teman seangkatan saya di sini antara lain: Hasnul Arifin Melayu, Khalid,  Mujiburrahman,  dan lain-lain. Ada tiga mata kuliah diberikan di lembaga ini, yaitu Bahasa Arab, Bahasa Inggris dan Studi Islam. Guru-guru saya di sini, almarhum Dr. Shofwan Idris, Dr. Yusni Sabi, Dr. Azman, dan Dr. Alyasa Abu Bakar. Saya kira lembaga ini telah berbuat banyak untuk mempersiapkan mahasiswa yang akan menempuh pendidikan di tingkat S2 yang pada waktu itu masih memiliki persaingan yang sangat ketat.

Padang, Akhir Maret 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s