Menjadi Guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Masjid Kampung Keuramat

Di samping tujuan utama, yakni mengikuti kuliah, saya juga menjadi remaja masjid Kampung Keuramat Banda Aceh.  Menjadi remaja masjid, banyak kegiatan-kegiatan keagamaan yang kami lakukan. Dari sini pula saya pernah mengikuti pelatihan pengelolaan masjid yang dilaksanakan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) hingga akhirnya saya menjadi anggota ICMI.  Tahun 1991, saya dan beberapa teman antara lain: Bang Maskun, Ibrahim, Bang Rusydi,  Ikhwan, Fakri, Ghazali dan Rustam Wim, sang penggemar film mandarin, terlibat program pemberantasan buta huruf al-Qur’an dengan mendatangi rumah-rumah warga untuk mengajarkan membaca al-Qur’an. Tiga kali dalam seminggu, kami mendapatangi rumah warga yang di sana sudah difokuskan beberapa orang santri untuk belajar al-Qur’an.  Saya dan teman-teman merasa menikmatinya karena di samping dapat berkenalan lebih jauh dengan masyarakat, rasanya saya bermanfaat bagi orang banyak, meskipun untuk kegiatan ini kami tidak diberi upah. Di samping itu kegiatan remaja masjid, saya juga mengikuti beberapa kegiatan pengurus masjid, misalnya: mengaji tafsir al-Qur’an yang pada waktu itu dilaksanakan dari rumah ke rumah warga sekali seminggu, dan membaca kitab Subul al-Salam yang dipandu oleh Ustad Sulaiman Jalil, salah seorang dosen Fakultas Syari’ah IAIN Imam Bonjol Padang. Di sini juga saya belajar membaca kitab Matan Jurumiyah yang dipandu oleh Bang Maskun.

Tetapi setelah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dibentuk, saya dan teman-teman tidak lagi mendatangi rumah warga, tetapi ikut menjadi tenaga pengajar di TPA yang sudah dibentuk. Sistem pengajaran dengan menggunakan buku Iqra’ yang pada waktu itu baru dipopulerkan. Buku ini kalau diikuti dengan ketat, maksud saya sesuai dengan aturan yang digariskan oleh pencetusnya, memang dapat membuat santri membaca al-Qur’an dengan cepat. Misalnya, satu 6 orang santri dikelola oleh satu orang guru.  Alhamdulilah TPA kampung keuramat menjadi sangat maju, karena memang sistem pengajaran buku Iqra diterapkan sepenuhnya.  Santrinya mencapai jumlah tiga ratusan lebih. Bahkan santrinya tidak hanya datang dari lingkuangan masjid, tetapi juga datang dari berbagai tempat yang jauh. Saya rasa pada waktu itu, TPA ini adalah TPA yang paling maju di kota Banda Aceh. Seiring dengan meningkatnya jumlah santri, guru-guru TPA pun menjadi bertambah. Saya memiliki banyak teman di sini, di antara yang masih saya ingat antara lain: Saiful Musadir, Azhar, Samwil,  Nasrullah, Dian Milvita dan  Dian Wirda.

Akhir tahun 1994, saya membantu bang Rusydi mendirikan Ta’lim al-Qur’an li al-Aulad (TQA). Lembaga ini adalah lembaga yang menampung santri  wisudawan-wisudawan dari TPA untuk pendidikan al-Qur’an lanjutan. Lembaga ini tepat berada di sebelah masjid, yakni rumah yang sudah dibeli oleh masjid. Di sini santriwan mulai dikonsentrasikan untuk bacaan tartil, tahfiz, tilawah dan Bahasa Asing: Arab dan Inggris.  Saya masih ingat beberapa guru yang membantu di sini, selain Bang Rusydi dan saya, antara lain: Samwil, Heri, Muhamamad Ibrahim Ainun dan Wardiati.

Padang, Akhir Maret 2010

2 comments

  1. Walaikum Salam Warahmatullahi Wabarakatuh
    Woow … juga Tom. Saya salut sama kamu. Alhamdulillah, masih muda sudah memberikan kontribusi bagi umat. Biasanya anak-anak muda sibuk sendiri dengan dunianya. Mudah-mudah kamu akan memberikan kontribusi yang luar biasa pada masa-masa berikutnya. Amin…
    Sudah lama saya tidak lagi menjadi praktisi pendidikan TPA, ya.. sejak 1996. Tapi meskipun demikian saya juga masih mengamati perjalanan TPA. Apa yang Tom alami dengan TPA yang Tom bina adalah masalah yang juga ada di tempat lain. Di Padang, misalnya di mana saya berdomisili juga terjadi kasus seperti itu di beberapa TPA. Tetapi, jangan surut karena menghadapi masalah, karena masalah adalah bagian dari kehidupan kita:
    1. Kasus santri yang semakin lama semakin sedikit biasanya disebabkan beberapa hal. Tetapi, kualitas dan profesionalitas guru paling menurut saya sangat dominan dalam hal ini. Termasuk kualitas dan profesionalitas guru misalnya:
    a. Kesungguhan guru dalam membimbing membaca al-Qur’an. Misalnya ada santri yang agak lambat perkembangan ketrampilannya membaca, guru harusnya menyediakan waktu ekstra bagi santri, seperti habis shalat Shubuh. Demikian pula kalau ada santri yang berbakat hafalan, maka layaknya juga menjadi perhatian guru sehingga bisa bakatnya tersalurkan dengan baik. Ini yang kami lakukan ketika kami pada masa-masa awal membina TPA Kampung Keuramat Banda Aceh tahun 1993.
    b. Kemampuan guru sendiri dalam membaca al-Qur’an sudah mendapat pengakuan masyarakat dalam.
    Berkenaan dengan ketrampilan lain yang sudah Tom berikan kepada santri untuk menarik perhatian merupakan satu hal yang positif. Tetapi saya masih berpendapat bahwa kemajuan santri dalam membaca al-Qur’an atau perhatian guru terhadap bakatnya berkenaan dengan al-Qur’an paling dominan dalam menumbuhkan perhatian orang tua santri.
    2. Berkenaan dengan perhatian orang tua santri, memang harus melibatkan pengurus masjid atau mushalla di mana TPA itu berdiri. Masjid atau mushalla paling tidak harus mensupport pendanaan dan kebutuhan TPA.
    3. Kenakalan anak-anak memang merupakan satu hal yang lumrah. Tetapi guru tidak boleh terjebak dalam emosi. Gunakan kreatifitas kita untuk mendekati anak-anak yang nakal dengan memberikan perhatian atau kepercayaan. Biasanya hanya ada satu atau beberapa anak yang nakal, yang lain hanya pengikut saja.
    Terus berikan kontribusimu bagi umat. Nabi bersabda: Orang yang paling baik adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain. Allah berfirman: “Kami akan membalasi jauh lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Sampai di sini saja Tom…Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

  2. Assalamualaikum. Mohon maaf, baru sekarang terlihat komentar ini. Saya tidak mendapat khabar tentang beliau dan alamatnya. Insya Allah kalau ada khabar saya kasih tau. Sekarang saya sudah mutasi tugas ke Banda Aceh, jumpa lagi dengan teman-teman lama. Yang masih setia di kampung keuramat, hanya Mr Fakhri. O… ya sekarang sudah jauh sekali perubahan di kampung keuramat, tambeh rame, termasuk juga bangunannya banyak yang diperbarui. Masjidnya juga sekarang sedang dibangun baru kembali. Wassalam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s