Keharusan Berwudhu’ Bagi Orang yang Menyentuh Kemaluan

Handout

Mata Kuliah       : Syarh Hadis Ahkam

Judul Materi       : Keharusan Berwudhu’ Ketika Menyentuh Kemaluan

Pengajar             : Maizuddin, M.Ag.

A. Lafal Hadis

وَعَنْ بُسْرَةَ بِنْتِ صَفْوَانَ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهَا; – أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم  قَالَ: “مَنْ مَسَّ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ”  أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ, وَابْنُ حِبَّان

(Hadis) dari Busrah bint Shafwan ra, bahwa Rasulullah saw bersabda: Siapa yang menyentuh kemaluannya hendaklah dia berwudhu’. H.R. Khamsah dan

Dishahihkan oleh Tirmidzi dan Ibn Hibban)

B. Beberapa Hadis Lain

Ada hadis lain yang tampak bertentangan dengan hadis ini, yaitu hadis dari Thalqin yang diriwayatkan oleh beberapa Mukharrij.

وَعَنْ طَلْقِ بْنِ عَلِيٍّ – رضي الله عنه – قَالَ: – قَالَ رَجُلٌ: مَسَسْتُ ذَكَرِي أَوْ قَالَ اَلرَّجُلُ يَمَسُّ ذَكَرَهُ فِي اَلصَّلَاةِ, أَعَلَيْهِ وُضُوءٍ ? فَقَالَ اَلنَّبِيُّ – صلى الله عليه وسلم – “لَا, إِنَّمَا هُوَ بَضْعَةٌ مِنْكَ – أَخْرَجَهُ اَلْخَمْسَةُ, وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّان َ. وَقَالَ اِبْنُ اَلْمَدِينِيِّ: هُوَ أَحْسَنُ مِنْ حَدِيثِ بُسْرَةَ

C. Kualitas Hadis

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang mana di antara kedua hadis tersebut yang lebih sahih. Kalangan Syafi’iyah menyatakan bahwa hadis Busrah di atas adalah yang paling shahih dalam persoalan ini, sementara hadis Thaliq tersebut dipadang dha’if. Oleh karena itu, hadis Thaliq di atas tidak dapat dipakai dalam persoalan ini. Kalaupun hadis Thaliq tersebut sahih, juga tidak dapat diterima karena dipandang mansukh dengan hadis Busrah.

Tetapi, sebagian ulama seperti Ibn al-Madini misalnya, demikian pula Ibnu Hibban menyatakan bahwa hadis hadis Thaliq lah yang paling shahih. Bahkan hadis ini tidak dapat dipandang mansukh karena adanya ‘illat yang yang tidak pernah berubah, yaitu kemaluan adalah bagian dari tubuh. (Bahrur Raiq, Juz I, hal. 46)

D. Pemahaman Hadis

Memahami hadis Busrah di atas, ada tiga pendapat ulama, yaitu dari kalangan Syafi’iyah, Malikiah dan Hanafih:

Pertama, dari kalangan Syafi’iyah. Lafazh َ فَلْيَتَوَضَّأْdalam hadis Busrah di atas dipahami dengan perintah wajib berwudhu’ bila menyentuh kemaluan. Terhadap hadis Thaliq mereka menyatakan bahwa pernyataan Nabi  هَلْ هُوَ إِلَّا بُضْعَةٌ مِنْكَ dipahami dalam pengertian tidak menafikan kewajiban berwudhu’. Tetapi dipahami nafi najasahnya kemaluan.  (al-Hawi fi Fiqh al-Syafi’i, Juz I, hal. 193).

Kedua, dari kalangan Malikiyah. Mereka memahami pernyataan Nabi فَلْيَتَوَضَّأْ pada asalnya adalah perintah yang memberi pengertian anjuran (sunat) bukan keharusan. Tetapi, dapat berarti wajib dalam keadaan sengaja atau menikmati sentuhan itu.

Ketiga, kalangan Hanafiyah. Mereka memahami hadis Busrah tidak dapat dipakai dalam persoalan ini, karena hadis Busrah menyangkut persoalan ‘umum al-balwa, sedangkan beberapa orang sahabat seperti Ibn Mas’ud, Ali ibn Abih Thalib,  Ibn ‘Abbas dan Huzaifah al-Yamani, tidak memahami batalnya wudhu’ karena menyentuh kemaluan.  Oleh karena itu, hadis Busrah tidak dapat dijadikan sebagai dalil dalam persoalan ini.

E. Daftar Rujukan

Muhammad ibn Ismail al-Amir al-Kahlani al-Sha’ani, Al-ShaSubul al-Salam, Maktabah Mustafa al-Bab al-Halabi, 1960.

Muhammad ibn Ali ibn Muhammad al-Syaukani, Nail al-Authar, Idarah al-Thiba’ah al-Muniriyah

Jalal al-Din ‘Abd al-Rahman Ibn Abi Bakr al-Suyuthi, al-Hawi li al-Fatawa fi al-Fiqh wa ‘Ulum al-Tafsir wa al-Hadits wa  al-Ushul wa al-Nahw wa al-I’rab wa Sair al-Funun, Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, 2000.