Handout 6

Kitab Shahih Imam Al-Bukhari

Maizuddin, M.Ag.

 

A. Pendahuluan

Di antara kitab-kitab hadis yang berkembang, kitab Shahih Imam Al-Bukhari merupakan salah satu di antara kitab hadis yang paling populer dan mendapat perhatian luas dari masyarakat. Di antara ulama bahkan mengatakan tidak ada kitab yang paling sahih setelah al-Qur’an selain kitab Shahih Al-Bukhari. Anggapan ulama bahwa kitab Shahih Imam al-Bukhari ini memiliki akurasi yang tinggi, bukan tanpa alasan. Tetapi, memang dipahami dari metode Imam al-Bukhari sendiri di dalam menyeleksi hadis-hadis yang beliau masukan ke dalam kitab Shahih-nya.

B. Penulis Kitab Shahih

Penulis kitab Shahih al-Bukhari adalah Abu Abdullah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Badrdizbah Al-Ju’fiy Al Bukhari. Ia lahir di Bukhara pada tanggal 13 Syawwal 194 H dan wafat 256 H.  Bukhara adalah sebuah daerah Usbekistan, Asia Tengah,  daerah yang melahirkan banyak tokoh ternama, seperti: al-Farabi dan Ibnu Sina, Zamakhsyari, al-Durdjani, al-Bairuni.

Imam al-Bukhari  lahir dalam keluarga yang taat beragama. Ayahnya adalah salah seorang ulama besar dalam mazhab Maliki. Oleh karena itu, ia sudah mulai belajar agama sejak usia dini.

Kecerdasannya, terutama daya hafalnya sudah terlihat sejak kecil. Dalam perlawatannya mencari hadis ia pun pernah diuji oleh 10 orang ulama dengan masing-masing mereka menguji 10 buah hadis yang ditukarkan sanadnya satu sama lain. Imam Bukhari dapat menyelesaikan ujian ini dengan baik. Karena kekuatan hafalannya ini, maka ia diberi gelar tertinggi di kalangan muhadditsin, yaitu Amir al-Mukminin fi al-Hadits.

Semangatnya menelusuri hadis-hadis Nabi sangat luar biasa. Ia berkelana dari satu negara ke negara lain selama 16 tahun dan berhasil menghimpun 600.000 hadis. Semangat ini terutama ditelorkan oleh gurunya Ishaq ibn Rawaih yang meminta murid-muridnya untuk menulis kitab yang menghimpun hadis-hadis shahih. Di samping itu, juga mimpinya berdiri di samping Rasulullah sambil mengipasi beliau, yang ditakwilkan oleh ahli bahwa beliau adalah orang yang menjaga Nabi dari kedustaan-kedustaan orang.

Imam al-Bukhari tidak hanya menulis kitab sahih ini saja tetapi banyak kitab lain yang ditulis, tidak kurang dari 15 buah kitab yang ditulisnya. Di antaranya adalah kitab Adab al-Mufrad, Al-Tarikh al-Shaghir, Al-Tarikh al-Awsath, Al-Tarikh al-Kabir, Al-Tafsir al-Kabir,  Al-Musnad al-Kabir, Kitab al-Dhu’afa dan Al-Sami’ al-Shahabah.

C. Nama Kitab dan Kandungan Hadis

Imam al-Bukhari memberi nama kitabnya الجامع المسند الصحيح المختصر من أمور رسول الله صلى الله عليه و سلم وسننه وأيامه . Pemberian nama  al-Jami’ menunjukan bahwa kitab sahih ini tidak hanya menghimpun hadis-hadis dalam satu bidang keagamaan, tetapi banyak bidang keagamaan. Di samping itu penggunaan kata al-musnad al-shahih mengindikasikan bahwa hadis-hadis di dalam kitab shahih ini adalah hadis-hadis yang memiliki sandaran yang kuat.

Kita Shahih Imam al-Bukhari ini memuat kurang lebih 4000 buah hadis. Sebagian hadis-hadis ini disebut pada beberapa tempat, sehingga bila dihitung seluruhnya, termasuk dengan pengulangannya, maka mencapai 7000 hadis.  Sebanyak 4000 buah hadis ini, merupakan hadis-hadis yang telah diseleksi dari 600.000 buah hadis yang didapatkan oleh Imam al-Bukhari.

D. Kriteri dan Sistematika Kitab Shahih

Imam al-Bukhari tidak menjelaskan kriteria kritik hadisnya, tetapi para ulama melakukan penelitian terhadap hadis-hadis yang ada di dalam kitab shahih dan menyimpulkan bahwa kriteria yang digunakannya sangat ketat.  Imam al-Bukhari menggunakan kriteria kesahihan hadis seperti ittishal sanad, ‘adalah, dhabit, terhindar dari syadz dan ‘illat. Tetapi, untuk ittishal sanad imam Bukhari menggunakan kriteria dapat dipastikan liqa’ dan mu’asharah. Di samping itu, rawi-rawi dari kalangan murid al-Zhuhri yang digunakan adalah rawi-rawi yang faqih, artinya rawi-rawi yang memiliki ‘adalah dan dhabit dan lama menyertai Imam al-Zhuhri.

Dalam menyusun hadis-hadisnya, Imam al-Bukhari tidak menuliskan judul babnya, tetapi menempatkan hadis-hadis dalam pembicaraan yang sama dalam satu kelompok. Para ulama belakanganlah yang menulis judul babnya.

E. Kritik dan Pembelaan

Meskipun para ulama menyatakan bahwa kitab Shahih al-Bukhari memiliki akurasi yang tinggi, tetapi ditemukan juga kritik terhadap hadis-hadis yang ada dalam kitabnya, baik dari segi kualitas sanad maupun matan-nya. Imam Daruquthni yang menyatakan bahwa dalam Shahih al-Bukhari terdapat hadis-hadis mursal dan munqathi’. Tetapi kritik ini dijawab oleh para ulama terutama oleh penulis kitab syarh-nya, yaitu Ibn Hajar. Ia menyatakan bahwa hadis-hadis mursal dan munqathi’ dalam Shahih al-Bukhari bukanlah pokok tetapi adalah hadis-hadis yang berfungsi sebagai syahid dan tabi’. Di samping itu, banyak hadis-hadis yang dikritik itu adalah hadis-hadis yang berulang, pada sebelumnya telah disebutkan secara lengkap sanadnya.

Sedangkan kritik matan banyak dimunculkan oleh para pemikir modern dan juga dari kalangan orientalis. Hadis-hadis yang dikritik ini terutama hadis-hadis musykil dari segi logika modern, misalnya hadis yang menyatakan bahwa Nabi menjelaskan bahwa pada malam hari matahari pergi sujud di bawah Arsy Tuhan. Kesulitan memahami hadis-hadis seperti ini, karena para pengkritik memahami hadis dengan memahami maksud Nabi dalam menyampaikan hadis itu kepada para sahabat. Dalam hadis di atas, Nabi tidak bermaksud untuk menjelaskan pengetahuan astrofisika, tetapi Nabi ingin menjelaskan bahwa semua yang ada di alam ini tunduk di bawah kekuasaan Allah. Di samping itu, Nabi berbicara dengan masyarakatnya yang awam dengan pengetahuan astrofisika, sehingga bila Nabi berbicara apa adanya, mereka tidak akan mampu menangkap maksud Nabi.

D. Daftar Rujukan

Muhammad ibn Mathar al-Zahrani, Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah, Nasy’atuhu wa Tathawwuru, Dar al-Hudhari.

Abdullah Ali Humaid, Manahij al-Muhadditsin, Dar  Ulum al-Sunnah, Riyadh, 1999

Muhammad Abu Syuhbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shihah al-Sittah, Dar al-Fikr, Beirut

Mustafa Azhami, Metodologi Kritik Hadis, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1996