Handout 4

Kitab Shahih Muslim

Maizuddin, M. Nur

 

A. Pendahuluan

Kitab Shahih Muslim dipahami oleh umumnya ulama sebagai kitab sumber hadis sahih. Bersama kitab Shahih al-Bukhari, kitab ini menjadi khazanah yang tak ternilai bagi para ulama dalam memahami agama. Bahkan beberapa kelompok ulama seperti ulama Khurasan dan Maghribi meyakini bahwa kedudukan Kitab Shahih Muslim lebih tinggi dari Shahih al-Bukhari. Pernyataan dapat dipahami karena kitab ini memiliki plus tersendiri yang tidak dimiliki oleh kitab Shahih al-Bukhari.

B. Penulis Kitab Shahih

Penulis kitab Shahih Muslim adalah Al-Imam Abul Husain Muslim bin al-Hajjaj bin Muslim bin Kausyaz al-Qusyairi an-Naisaburi. Lahir di Naisaburi, sebuah daerah di Usbekistan, Asia Tengah, pada tahun 204 H dan wafat pada tahun 261 H. Ia belajar agama sejak kecil dan terkenal dengan sifat tawadhu’ dan wara’.

Guru-gurunya pada umumnya sama dengan guru Imam Bukhari. Pada awal sekali ia belajar kepada Imam al-Dakhili, kemudian Yahya ibn Yahya, Ishaq ibn Rawaih, Ahmad ibn Hanbal, Abdullah ibn Maslamah, Imam al-Dzihli dan Imam Bukhari. Tetapi, dari kedua gurunya yang disebutkan terakhir, al-Dzihli dan al-Bukhari, ia tidak meriwayatkan satu hadis pun. Hal ini ditanggapi secara beragam oleh para ulama. Sebagian mengatakan bahwa ia menghindari konflik antara al-Dzihli dan al-Bukhari, sehingga ia menjaga perasaan kedua gurunya dengan tidak meriwayatkan hadis dari mereka berdua. Sebagian lagi mengatakan bahwa Imam Muslim tidak meriwayatkan hadis dari Imam Bukhari, karena ia berusaha mencari jalur sanad yang lain.

Dalam mencari dan mendapatkan hadis-hadis Nabi yang sudah tersebar, ia berkelana selama 15 tahun dan mendapatkan sebanyak 500.000 buah hadis. Ia bolak-balik dari satu negara ke negara lain, Hijaz, Syam, Irak dan Mesir. Dari safarinya mencari hadis-hadis Nabi ia menghasilkan beberapa karya, antara lain : al-Musnad al-Kabir, Kitab al-‘Ilal, Kitab al-Mukhadhramin, Kitab Aulad al-Shahabah dan lain-lain.

C. Nama Kitab dan Kandungan Hadis

Kitab Shahih Muslim diberi nama oleh penulisnya dengan Al-Musnad al-Shahih. Kitab ini berisi 4.000 buah hadis. Tetapi jika dihitung secara keseluruhan termasuk hadis-hadis yang diulang penulisannya, maka sebagian ulama menyatakan seluruhnya berjumlah sebanyak 12.000 buah hadis. Dari 4000 buah hadis telah mencakup hadis-hadis dalam berbagai bidang keagamaan seperti : keimanan, hukum, akhlak, tafsir, sirah, dan lain-lain. Oleh karena itu, para ulama menyebut kitab Muslim ini dengan kitab  al-Jami’.

Berbeda dengan Imam Bukhari, Imam Muslim membuat sebuah tulisan pendahuluan untuk kitabnya ini. Dari sinilah para ulama menemukan kriteria dan pandangan imam Muslim berkenaan dengan hadis-hadis Nabi. Lebih jauh dapat dijelaskan bahwa catatan pendahuluannya berisi penjelasan tentang pembagian dan macam-macam hadis,  hadis-hadis yang dicantumkan dalam shahihnya, keadaan para perawi dan mungungkapkan cela-celanya, menerangkan pentingnya isnad, dan berdalil dengan hadis mu’an’an

D. Kriteri dan Sistematika Kitab Shahih

Imam Muslim menjelaskan kriteria hadis-hadis yang dimuatnya di dalam kitabnya, yaitu: ما وضعت شيأ في كتابي هذا إلا بحجة وما أسقطت منه شيأ إلا بحجة . Dalam kesempatan lain ia menjelaskan: ليس كل شئ عندي صحيح وضعته ههنا إنما وضعت ما أجمعوا عليه. Dari penejelasan ini terlihat bahwa hadis-hadis yang dimasukan ke dalam kitab Shahih-nya, adalah hadis-hadis yang memiliki alasan kesahihan yang kuat. Di samping itu, ia juga menyatakan bahwa hadis-hadisnya sebagiannya disepakati oleh para ulama.

Dari penelitian yang dilakukan terhadap hadis-hadisnya, imam muslim menggunakan kriteria yang dipakai dalam dalam menentukan kesahihan, yaitu: sanad bersambung, perawi yang adil, dhabit serta tidak memiliki syadz dan ‘illat. Tetapi dalam menentukan kebersambungan sanad, Imam Muslim tidak seketat Imam Bukhari, di mana bila perawinya tsiqah, ia cukup mengasumsikan sanad bersambung dengan terjadinya muasharah (kesezamanan) antara para perawi dan kemungkinan liqa’ (terjadi pertemuan dalam kapasitas guru dan murid), yakni bila daerah tempat tinggal mereka tidak berjauhan. Di samping itu, rawi-rawi yang digunakan oleh Imam Muslim termasuk juga rawi-rawi dari murid-murid Imam al-Zhuhri yang adil dan dhabit, tetapi tidak lama menyertai Imam al-Zhuhri. Sementara Imam al-Bukhari lebih banyak menggunakan rawi-rawi dari kalangan murid Imam al-Zhuhri yang lama menyertai al-Zhuhri.

Sistematika penulisan kitab Shahih Muslim diakui oleh banyak ulama sebagai sistematika yang lebih baik. Pertama,  ia menyebut menempatkan hadis-hadis yang semakna beserta sanadnya dalam satu kelompok tertentu. Kedua, ia menghimpun sanad yang muttafaqun alaihi (disepakati oleh ulama) dan yang tidak dengan metode tahwil (berpindahnya jalur rawi) dengan menggunakan lambang huruf ha( ح). Ketiga,  ia lebih banyak mengutip hadis-hadis riwayat bi al-lafzhi. Ini merupakan satu kelebihan di banding hadis-hadis riwayat Imam al-Bukhari. Keempat, ia sangat memperhatikan matan hadis. Jika ada dua rawi yang menyampaikan hadis, maka ia menyebutkan lafaz dari perawi tertentu. Atau juga bila ada ziyadah (tambahan lafaz), maka ia juga menyebutkannya.

E. Kritik dan Pembelaan

Kitab Shahih Muslim juga tak lepas dari kritikan, baik dalam hal sanad maupun matannya. Dari sisi sanad, dinyatakan bahwa di dalam kitab Muslim terdapat hadis-hadis mu’allaq dan mursal. Di samping itu, juga terdapat perawi-perawi yang lemah dalam hadis-hadis Muslim.

Kritikan ini dibantah oleh Imam al-Nawawi, bahwa hadis-hadis muslim hadis-hadis mursal dan mu’allaq hanya hadis-hadis yang berfungsi sebagai syahid dan tabi’. Sedangkan berkenaan dengan perawi yang dinilai dhai’if, sebagian mereka memang mukhtalith pada akhir hidupnya dan Imam Muslim meriwayatkan sebelum rawi tersebut mukhtalith.

Sedangkan dari sisi matan, sebagian para tokoh-tokoh modern menyatakan bahwa terdapat hadis-hadis palsu, misalnya hadis yang menjelaskan tentang penciptaan dunia dan isinya dalam tujuh hari, padahal Allah dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa penciptaan langit dan bumi adalah enam hari.

Kritikan ini dibantah dengan oleh para pembela kitab Shahih Muslim, dengan penjelasan bahwa hadis muslim dituduh palsu itu, tidak berbicara tentang penciptaan langit dan bumi, tetapi berbicara tentang penciptaan isi dunia. Jadi persoalannya hanya persoalan perbedaan pemahaman terhadap hadis tersebut.

E. Daftar Rujukan

Muhammad ibn Mathar al-Zahrani, Tadwin al-Sunnah al-Nabawiyah, Nasy’atuhu wa Tathawwuru, Dar al-Hudhari.

Abdullah Ali Humaid, Manahij al-Muhadditsin, Dar  Ulum al-Sunnah, Riyadh, 1999

Muhammad Abu Syuhbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shihah al-Sittah, Dar al-Fikr, Beirut

Mustafa Azhami, Metodologi Kritik Hadis, Pustaka Hidayah, Jakarta, 1996