Artikel 1

PENDEKATAN TEKSTUAL DALAM MEMAHAMI HADIS*

 

Maizuddin M. Nur

 

Abstrak

Pendekatan tekstual merupakan salah satu pendekatan dalam memahami hadis-hadis Nabi. Pendekatan ini adalah pendekatan yang paling awal digunakan oleh seseorang ketika memahami hadis-hadis Nabi sebelum mencari alternatif pendekatan lainnya. Dalam peragaan para ulama, memahami hadis dengan pendekatan tekstual dilakukan dengan berbagai analisis. Paling tidak ada tiga analisis yang dapat diungkap dalam melakukan pendekatan tekstual, yaitu: analisis kebahasaan, analisis dengan disiplin ilmu ushul fiqh, dan analisis dengan metode takwil.

 

PENDAHULUAN

Dalam kaitannya dengan pemahaman hadis, para ulama telah memperagakan berbagai pendekatan dalam karya-karya syarh maupun karya-karya lainnya. Meskipun kebanyakan berbentuk aplikasi tanpa menyebutkan bentuk pendekatan, namun para penulis dapat membuat klasifikasi pendekatan dalam memahami hadis Nabi. Syuhudi Ismail  misalnya, dalam karya tulisnya yang berjudul Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits Tentang Ajaran Islam Yang Universal, Temporal dan Lokal, menyiratkan bahwa pendekatan dalam memahami hadis dalam dua bentuk yakni tekstual dan kontekstual.[1] Edi Safri dalam karyanya yang berjudul Al-Imam al-Syafi’i: Metode Penyelesaian Hadis-Hadis Mukhtalif, membuat klasifikasi pendekatan diperagakan oleh Imam Syafi’i dalam kitabnya Ikthtilaf al-Hadits. Menurutnya, ada empat pendekatan, yakni pendekatan dalam bentuk kompromi yang meliputi: 1) penyelesaian berdasarkan pendekatan kaedah ushul, penyelesaian berdasarkan pemahaman kontekstual, penyelesaian berdasarkan pendekatan tematis-korelatif, penyelesaian dengan cara ta’wîl, 2) penyelesaikan dalam bentuk nasakh, 3) penyelesaian dalam bentuk tarjîh dan 4) penyelesaian dalam masalah tanawwu’ al-ibâdah.[2]

Dalam tulisan ini, penulis melakukan deskripsi terhadap analisis yang dicuatkan oleh para ulama dalam pendekatan tekstual.

Pendekatan Tekstual

Pendekatan tekstual adalah pendekatan yang paling awal digunakan dalam memahami hadis-hadis Nabi. Karena memahami sebuah teks adalah terlebih dahulu dengan mencoba menangkap makna asalnya, makna yang populer dan mudah ditangkap. Bila tidak dapat dipahami, karena berbagai alasan, baru kemudian digunakan pendekatan lainnya.

Kata teks bermakna “kata kata asli dari pengarangnya” atau “sesuatu yang tertulis”.[3] Kata tekstual adalah kata sifat dari kata teks sehingga bermakna bersifat teks atau bertumpu pada teks. Dari sini maka secara istilah pendekatan tekstual berkaitan dengan pemahaman hadis adalah memahami makna dan maksud yang terkandung dalam hadis-hadis Nabi dengan cara bertumpu pada analisis teks hadis.

Dari definisi di atas, maka yang menjadi perhatian pendekatan ini adalah makna-makna kata dan struktur gramatika teks. Pendekatan ini tentu menjadikan dominasi teks sangat kuat. Teks menjadi bagian yang paling sentral dalam konstalasi pemahaman pesan-pesan Nabi, sehingga konteks cenderung terabaikan.

Di sisi lain, pendekatan tekstual cenderung melahirkan kesimpulan yang parsialistik. Hal ini karena teks tidak diletakkan dalam konstelasi hadis-hadis Nabi yang lebih luas sehingga tidak terlalu membutuhkan hadis-hadis lain dalam analisisnya. Kalaupun ada, pengaitan dengan hadis-hadis lain terbatas pada kepentingan analisis teks tertentu, seperti ‘âm dan khâsh, muthlaq dan muqaiyyad.

ANALISIS DALAM PENDEKATAN TEKSTUAL

Sebagai pendekatan yang bertumpu pada teks, maka ilmu bahasa dan ushul fiqh merupakan bagian yang paling utama sebagai alat analisis utamanya. Para ulama, tetutama Imam al-Syafi’i dianggap paling berjasa dalam merumuskan metodologi memahami dalil-dalil syarak dengan pendekatan tekstual. Dari sini maka pendekatan tekstual dapat dilihat dalam tiga analisis, yakni 1) analaisis kebahasaan, yakni analisis di mana makna sebuah kata merupakan fokus utamanya, 2) analisis kaedah ushul fiqh, yakni analisis yang menitikberatkan pada persoalan dilalah, dan 3) analisis dengan metode ta’wîl yakni analisis yang berusaha memberi makna lain pada kata sebuah kata.

  1. 1.   Analisis Kebahasaan

Berkaitan dengan analisis kebahasaan, pemaknaan merupakan bagian yang paling penting, baik dari sisi kata secara an sich maupun kata dalam kaitannya dengan partikel atau kata lainnya. Sebagai sebuah bahasa agama, terutama dalam menjelaskan hal-hal yang bersifat metafisis seperti tentang Allah, Surga, Neraka, dan lain-lain sebagainya, maka bahasa yang dipakai—agar dapat dipahami oleh pendengar/pembaca—tentu bahasa yang berada dalam jangkauan wilayah pengamalan empiris dan inderawi. Karena itu sering terlihat, beberapa hadis Nabi menjelaskan Allah seperti halnya manusia.

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: ينزل ربنا تبارك وتعالى كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الآخر يقول من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له. رواه البخاري

Hadis dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: Tuhan kita Tabaraka wa Ta’ala setiap malam turun kel langit dunia pada saat malam di pertiga akhir; (Allah berfirman: Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan doanya itu. Barangsiapa yang meminta (sesuatu) kepada-Ku, niscaya Aku memberinya. Dan barangsiapa minta ampun kepada-Ku, niscaya Aku mengampuninya. H. R. Bukhari.[4]

Dalam hadis ini Allah digambarkan seperti manusia turun naik ke langit dunia. Ini berarti bahwa Allah terlihat sama dengan makhluk-Nya. Kesulitan memahami hadis ini membuat sebagian ulama menyatakan hadis ini berkualitas lemah (dha’if).[5]

Kata ينزل  tidak dapat dipahami dalam makna hakikinya, yakni turun dalam bentuk Zat-Nya. Penggunaan kata ينزل tersebut dipakai dalam kaitan menjelaskan sesuatu dalam batas-batas empiris sehingga dapat dimengerti. Jelas sekali bahwa Allah tidak dapat disamakan dengan manusia. Makna kata ينزل  dipahami dalam makna majazi (metoforis), yakni turunnya rahmat (تنزيل رحمة) Allah atau “perhatian (الاقبال)” Allah terhadap orang-orang yang berdoa untuk menjawab do’a mereka.[6]

Di sisi lain, pemaknaan terkait erat dengan tata bahasa. Di antara persoalan yang berkaitan dengan tata bahasa adalah persoalan mufrad (kata tunggal), jamak (kata yang menunujukan arti banyak), tankîr (indefinitif) dan ta’rîf (definitif), adat hashr, adat syart, dan lain-lain sebagainya. Sebagai contoh:

عن عمر ابن الخطاب قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إنما الأعمال بالنيات وإنما لامرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته لدنيا يصيبها أو أمرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه. رواه الجماعة[7]

Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya). H.R. Jamaah

Lafaz إنما  dalam hadis di atas dalam Bahasa Arab dipahami sebagai adat hashr (kata pembatas) sehingga memberi batas pada lafaz berikutnya, yakni bahwa amal-amal itu hanya dipandang berkaitan dengan niatnya, dan tidak dipandang sebagai perbuatan yang memiliki konsekuensi bila tidak ada ada niatnya.[8]

Lafaz الاعمال  dalam hadis di atas adalah adalah kata jamak (bentuk banyak) yang di-ma’rifah-kan (didefinitifkan) karena diberi huruf alif dan lam (ال). Kata ini memberi pengertian ‘am (umum) sehingga mencakup setiap perbuatan, baik perbuatan hati, anggota, fardhu, atau nawâfil, sedikit atau juga banyak yang dilakukan oleh mukallaf.[9]

Sedangkan lafaz النيات juga lafaz jamak yang memberi pengertian bahwa niat-niat itu juga beragam sebagaimana beragamnya amal perbuatan itu sendiri.[10] Sedangkan huruf ب  pada kata النيات dipahami sebagai sebab dalam artian niat merupakan penyebab adanya amal dari sisi hukumnya. Dari sini, maka para ulama menyimpulkan kaitan niat dan amal dari segi hukumnya secara tekstual dalam dua kesimpulan yang berbeda, yakni 1) sebagai sahnya suatu perbuatan di mana niat menjadi rukun dari perbuatan itu sendiri atau menjadi syarat sahnya, dan 2) sebagai kesempurnaan sebuah perbuatan.

 

 

  1. 2.   Analisis dengan Kaedah Ushul

Analisis dalam pendekatan tekstual yang dijelaskan yang menggunakan kaedah usul dalam karya-karya ushul fiqh berkaitan dengan persoalan antara lain: 1) persoalan perintah (amr), larangan (nahy), dan (pilihan) takhyîr, 2) persoalan lafaz ‘âm  dan khâsh, 3) lafaz bebas (muthlak) dan terkait (muqayyad), 4) lafaz yang diucapkan (manthûq) dan lafaz yang dipahami (mafhûm), dan 5) kejelasan dan ketidakjelasan maknanya meliputi (muhkam, mufassar, nas, zâhir, khâfi, musykil, mujmal, dan mutasyâbih).

Berkaitan dengan kaedah memahami amr, dan nahy misalnya sebagai berikut:

حدثني أبو أمامة الباهلي قال:سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول اقرؤوا القرآن فإنه يأتي يوم القيامة شفيعا لأصحابه. رواه مسلم

Abu Umamah al-Bahali menceritakan kepadaku katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Bacalah al-Qur’an karena sesungguhnya pada hari kiamat bacaan itu akan menjadi syafaat bagi pembacanya. H.R. Muslim[11]

Dalam hadis di atas ada shighat amr (bentuk kata perintah), yakni kata اقرؤوا (bacalah). Dalam kaedah ushul fiqh, bentuk amr dapat saja menunjukan perintah wajib, anjuran atau kebolehan. Perintah membaca al-Qur’an dalam ayat tersebut menunjukan anjuran (al-nadab), karena ada qarinah (indikator) yang menunjukan adanya manfaat, tanpa disertai ancaman bagi orang yang tidak membacanya.

حدثني عبد الله بن بريدة عن أبيه أنه كان في مجلس فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : إني كنت نهيتكم أن تأكلوا لحوم الأضاحى إلا ثلاثا فكلوا وأطعموا وادخروا. رواه النسائى[12]

Abdullah ibn Baridah mengkabarkan kepadaku dari bapaknya, bahwa dia berada dalam majelis Rasul di mana beliau bersabda: Dahulu aku melarangmu memakan daging kurban sampai tiga hari, maka (sekarang) makanlah, berimakanlah dengannya dan simpanlah. H.R. Nasai

Perintah makan dan menyimpan daging kurban dalam hadis di atas yang merupakan sighat amr yang menunjukan kebolehan (al-ibâhah), karena ada indikasi (qarînah) yang menyatakan dulu Rasulullah melarang. Dalam kaedah ushul, perintah yang terletak setelah larangan menunjukan kebolehan. Pada contoh lain, Rasulullah saw bersabda:

عن أبي الدرداء أنه قال: يا رسول الله دلني على عمل يدخلني الجنة. فقال النبي صلى الله عليه وسلم لا تغضب ولك الجنة. رواه الطبرانى

Hadis dari Abi Darda’ bahwa ia bertanya kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah, tunjukan aku amal yang memasukan aku ke dalam Surga. Nabi menjawab: Jangan marah dan bagimu adalah Surga. H.R. Thabrani.[13]

Larangan dalam hadis ini mengindikasikan karahah. Qarinah-nya adalah pernyataan tersebut adalah nahyu yang bersifat positif tanpa diikuti oleh pernyataan yang bersifat negatif.

 

  1. 3.   Analisis dengan Menggunakan Ta’wîl

Secara bahasa ta’wîl berasal dari kata al-awl (الأول) yang berarti kembali ke asal (الرجوع الى الأصل). Sedangkan pengertian istilah, ta’wîl adalah sebagai berikut:

صرف اللفظ عن معناه الظاهر إلى معنى يحتمله إذا كان المحتمل الذي يراه موافقا للكتاب والسنة

Memalingkan makna kata dari makna dasarnya kepada suatu makna yang dipahami dimana makna yang dipahami itu lebih sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah.[14]

            Dari definisi di atas terlihat bahwa pemalingan makna disebabkan oleh suatu qarinah yang kuat, yaitu adanya pertentangan atau kesulitan memahami hadis bila dipahami dengan makna dasarnya bila dihadapkan dengan dalil-dalil lain, baik al-Qur’an maupun hadis-hadis Nabi. Sementara makna yang lain dipahami lebih sesuai dengan al-Qur’an dan hadis.

Tetapi dapat juga qarinah ini bersifat aqliah, tidak dapat ditangkap maknanya karena menyalahi fakta atau realitas yang disimpulkan oleh ilmu pengetahuan modern. Itu sebabnya di dalam beberapa rumusan definisi lain, disebutkan dalil yang menjadi qarinah pemalingan tersebut dapat berupa dalil naqli maupun dalil akli.[15]

Dari pengertian ta’wîl tersebut di atas dapat dijelaskan bahwa analisis dengan menggunakan ta’wîl dalam pemahaman hadis adalah memahami makna dan menangkap pesan yang terkandung dalam hadis-hadis Nabi dengan cara memalingkan makna kata dari makna dasarnya kepada makna lain yang dapat dipahami karena ada indikasi kuat yang mengharuskannya.

Sebagian ulama menjelaskan bahwa kata yang di- ta’wîl-kan itu adalah kata mengandung beberapa pengertian, baik ditinjau dari segi bahasa seperti makna hakikat dan makna majazi-nya, atau dari segi kebiasaan orang-orang Arab dalam menggunakan kata itu, atau dari segi penggunaan lafaz itu dalam syari’at. Oleh karena itu ta’wîl tidak dibolehkan terhadap kata-kata yang jelas dan dapat dipahami maknanya.[16]

Langkah awal dalam melakukan ta’wîl adalah menemukan qarînah (indikasi) yang mengharuskan seseorang menarik makna lain di luar makna dasarnya. Bila tidak ada qarinah, maka tidak perlu dilakukan pendekatan ta’wîl.

Makna kata yang di-ta’wîl-kan  harus berkaitan dengan makna dasar dalam artian dapat berupa makna substansialnya maupun makna majazinya yang populer dalam masyarakat. Kata kucing besar ditakwilkan dengan harimau masih dapat diterima karena kedua kata tersebut berkaitan di mana kucing besar adalah makna majazi dari harimau. Tetapi kata kucing besar diberi takwil sebagai gajah, maka ini sama sekali tidak dapat diterima karena tidak berkaitan dan tak dapat dipahami.

Rasulullah saw misalnya menyatakan bahwa orang yang menyambung silaturrahmi akan diluaskan rizkinya dan dipanjangkan umurnya.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من سره أن يبسط له في رزقه أو ينسأ له في أثره فليصل رحمه. رواه البخاري

Dari Anas ibn Malik katanya: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang ingin rizkinya diluaskan dan ajalnya diakhirkan, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi. H.R. Bukhari[17]

عن ابي هريرة عن النبي صلى الله عليه وسلم إن صلة الرحم محبة في الأهل مثراة في المال منسأة في الأثر. رواه الترمذي

Sesungguhnya silaturrahmi (menumbuhkan) rasa kasih sayang di kalangan keluarga, menambah banyak harta dan mengakhirkan datangnya ajal. H.R. Tirmizi[18]

Sebagian ulama sulit memahami frase ينسأ له في أثرهatau  منسأة في الأثر yang bermakna diakhirkan ajalnya. Qarinahnya adalah bila dipahami dalam arti dasarnya, maka akan bertentangan dengan ayat al-Qur’an yang menjelaskan ajal tidak dapat dimajukan atau ditunda (QS. Al-A’raf: 34)

Oleh karena itu, frase tersebut harus dipalingkan maknanya kepada makna yang tidak bertentangan atau sesuai dengan ayat-ayat yang menjelaskan ajal tak dapat dimajukan dan ditunda. Tentu saja, makna lain yang dipahami dari frase diakhirkan ajalnya adalah makna yang masih berkaitan dengan frase tersebut. Dari kitab-kitab syarh hadis terlihat para ulama memberikan ta’wîl terhadap frase tersebut dalam dua bentuk, yaitu:

  1. Makna frase “mengakhirkan ajal” dalam hadis tersebut dipahami dalam pengertian penambahan keberkatan umur, taufiq untuk taat kepada Allah dan kreatifitasnya yang efektif. Artinya, dalam umurnya yang singkat mampu melahirkan berbagai kreatifitas dan karya.
  2. Makna frase “mengakhirkan ajal” dipahami dengan makna kekal namanya dalam keharuman sepertinya dia belum mati karena masing dikenang di dalam ingatan masyarakat.

Pendekatan ta’wîl  dapat pula digunakan dalam rangka menyelesaikan pertentangan dua hadis. Imam al-Syafi’i memberikan contoh dua hadis dengan pendekatan ta’wîl tentang waktu shalat Shubuh. Rasulullah saw bersabda:

عن رافع بن خديج أن رسول الله قال أسفروا بالصبح فإن ذلك أعظم لأجوركم. رواه الشافعي

Hadis dari Rafi’ ibn Khudaij bahwa Rasulullah saw bersabda: Lakukanlah shalat Shubuh pada waktu Shubuh mulai terang, karena demikian kamu akan memperoleh pahala yang besar. HR. Syafi’i[19]

Dalam hadis ini terlihat perintah Rasulullah untuk melaksanakan shalat shubuh pada waktu isfar, yakni mendekati matahari terbit. Sementara di dalam hadis lain terdapat keterangan bahwa Rasululah melaksanakan pada awal waktu shubuh di mana suasana masih gelap.

عن عائشة قالت كن نساء من المؤمنات يصلين مع النبي وهن متلفعات بمروطهن ثم يرجعن إلى أهلهن ما يعرفهن أحد من الغلس. رواه النسائي واحمد والشافعي

Hadis dari Aisyah katanya: Wanita-wanita mukmin melaskanakan shalat shubuh bersama Rasulullah, kemudian (selesai shalat) mereka pulang sambil menyelimuti diri dengan kain yang mereka pakai. Tak seorang pun dapat mengenali mereka karena hari masih gelap. HR. Nasai, Ahmad dan al-Syafi’i.[20]

Dalam hadis ini diinformasikan bahwa Rasulullah melaksanakan pada waktu masih gelap (ghalas). Jadi bertentangan dengan hadis yang pertama. Imam Syafi’i men- ta’wîl-kan hadis pertama, yaitu pada kata isfar. Meskipun Imam Syafi’i tidak menyebutkan secara langsung qarînah-nya, tetapi kita dapat menangkap dalam penjelasannya bahwa qarinahnya adalah nash al-Qur’an dan hadis lainnya, yaitu:

Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu`. (Q.S. Al-Baqarah: 238)

Rasulullah pernah ditanya tentang amal apa yang utama? Rasulullah menjawab: Shalat di awal waktunya.

Kedua nash al-Qur’an dan hadis ini dinyatakan Syafi’i bertentangan dengan hadis Khudaij (فيخالف حديث رافع بن خديج) tentang melaksanakan Shubuh pada waktu isfar.[21] Atas dasar ini makna kata isfar yang makna dasarnya adalah waktu Shubuh sudah mulai terang atau mendekati matahari terbit, menjadi makna lain yakni waktu shubuh terbitnya cahaya fajar yang kedua (يتبين الفجر الآخر).[22]

Mengapa makna itu yang dipilih? Tampaknya yang menjadi alasan adalah nash al-Qur’an tentang memelihara waktu shalat dan penjelasan bahwa amal utama adalah shalat pada awal waktunya, maka ada sebagian sahabat yang melaksanakan shalat Shubuh sebelum jelas munculnya waktu fajar. Karena itu Nabi menjelaskan agar menunggu waktu hingga terbitnya fajar yang terakhir.[23] Dengan pendekatan ta’wîl tersebut maka kedua hadis tersebut tidak lagi bertentangan maknanya.

 

PENUTUP

Pendekatan tekstual dalam memahami hadis-hadis Nabi tidak hanya terbatas pada makna literal, tetapi juga perolehan makna yang lebih luas melalui analisis kebahasaan, kaedah ushul dan penggunaan ta’wil.  Adanya berbagai analisis dalam pendekatan tekstual ini tidak diletakan dalam strata tertentu dalam pengertian bentuk analisis yang satu lebih tinggi dan utama dari pada bentuk analisis yang lainnya. Tetapi, analisis-analisis ini merupakan alternatif yang dapat digunakan dalam memberikan pengertian teks yang lebih tepat. Demikian pula pendekatan tekstual, bersama-sama dengan pendekatan lainnya merupakan alternatif yang dapat memperkaya jangkauan makna hadis sehingga hadis Nabi menjadi hidup dan tetap komunikatif dengan zaman.

 

DAFTAR RUJUKAN

Ismail, H.M. Syuhudi, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits Tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal, Bulan Bintang, Jakarta

Safri, Edi, Al-Imam al-Syafi’i: Metode Penyelesaian Hadis-Hadis Mukhtalif, Disertasi, Fakultas Pasacasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1990

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1985

Bukhari al-Ja’fi, Muhammad ibn Ismail Abu ‘Abdillah, Al-Jâmi’ al-Shahîh al-Mukhtashar, Dar Ibn Katsir al-Yamamah Beirut, 1987, Juz I

Abu Bakr, Sayyid Shalih, Menyingkap Hadis-Hadis Palsu, terj. Ahmad Wakid, Judul Asli: al-Adhwa’ al-Qur’aniyyah fi Iktisah Ahadits al-Israiliyyah wa Tathhir al-Bukhari Minha, Mutiarasolo, Surakarta, t.th. Jilid II

Nawawi, Abu Zakaria Yahya al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjaj, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1392 H, Juz VI

Muslim ibn al-Hajjaj Abu al-Husain a-Qusyairi al-Naisaburi, Shahîh Muslim, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, t.t Juz III

Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn ‘Abd al-Rahim al-Mubarakfuri , Tuhfah al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Tirmidzi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, Beirut, t.th, Juz V.

Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwazi, Juz V

Asqalani, Ahmad ibn Hajar ibn ‘Ali ibn Hajar Abu al-Fadhl, Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî, Dar al-Ma’rifah, Beirut, 1379 H,  Juz I

Nasa’i, Ahmad ibn Syu’aib Abdurrahman, Al-Mujtaba min al-Sunan, Maktbah al-Mathbu’ah al-Islamiyah, Halb, 1986, Juz I

Thabrani, Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad, al-Mu’jam al-Ausath, Dar al-Haramain, al-Qahiran, 1415 H,  Juz III

Jurjani, ‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Ali, al-Ta’rîfât, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, 1405 H, h. 72

Suyuthi, Abdurrahman ibn al-Kamal Jalal al-Din, Al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’ân, Dar al-Fikri Beirut, t.th, Juz II

Satria Efendi, Ushul Fiqh, Kencana, Jakarta, 2005, h. 232

Tirmidzi, Muhammad ibn ‘Isa Abu ‘Isa, Al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Tirmidzi, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, t.t, IV

Syafi’i, Muhammad ibn Idris Abu Abdullah, Musnad al-Syafi’i, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, t.t, h. 175 (selanjutnya disebut al-Syafi’i, Musnad al-Syâfi’î)

Syafi’i, Muhammad ibn Idris Abu Abdullah, Ikhtilâf al-Hadîts, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiah, Beirut, 1985


*Tulisan ini telah dimuat dalam Jurnal Al-Mu’ashirah, Vol. 8, No. 2, Juli 2011, Sear Fiqh, Banda Aceh

[1]H.M.  Syuhudi Ismail, Hadis Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual: Telaah Ma’ani al-Hadits Tentang Ajaran Islam yang Universal, Temporal dan Lokal, Bulan Bintang, Jakarta, 1994, h. 6

[2]Edi Safri, Al-Imam al-Syafi’i: Metode Penyelesaian Hadis-Hadis Mukhtalif, Disertasi, Fakultas Pasacasarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 1990 (selanjutnya disebut Edi Safri, Al-Imam al-Syafi’i)

[3]W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1985, h. 1035

[4]Muhammad ibn Ismail Abu ‘Abdillah Al-Bukhari al-Ja’fi, Al-Jâmi’ al-Shahîh al-Mukhtashar, Dar Ibn Katsir al-Yamamah Beirut, 1987, Juz I, h. 384 (selanjutnya disebut Al-Bukhari al-Ja’fi, Al-Jâmi’ al-Shahîh)

[5]Sayyid Shalih Abu Bakr, Menyingkap Hadis-Hadis Palsu, terj. Ahmad Wakid, Judul Asli: al-Adhwa’ al-Qur’aniyyah fi Iktisah Ahadits al-Israiliyyah wa Tathhir al-Bukhari Minha, Mutiarasolo, Surakarta, t.th. Jilid II, h. 161-165.

[6]Abu Zakaria Yahya al-Nawawi, al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim ibn al-Hajjaj, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, Beirut, 1392 H, Juz VI, h. 37 (selanjutnya disebut al-Nawawi, al-Minhâj Syarh Shahîh Muslim)

[7]Muslim ibn al-Hajjaj Abu al-Husain a-Qusyairi al-Naisaburi, Shahîh Muslim, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, t.t Juz III, h. 1514 (selanjutnya disebut Muslim ibn al-Hajjaj, Shahîh Muslim)

[8]Muhammad ibn Abd al-Rahman ibn ‘Abd al-Rahim al-Mubarakfuri , Tuhfah al-Ahwazi bi Syarh Jami’ al-Tirmidzi, Dar al-Kutub al-‘Ilmiah, Beirut, t.th, Juz V, h. 232 (Selanjutnya disebut al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwazi)

[9]Al-Mubarakfuri, Tuhfat al-Ahwazi, Juz V, h. 232

[10]Ahmad ibn Hajar ibn ‘Ali ibn Hajar Abu al-Fadhl al-‘Asqalani, Fath al-Bârî Syarh Shahîh al-Bukhârî, Dar al-Ma’rifah, Beirut, 1379 H,  Juz I, h. 12 (selanjutnya disebut al-‘Asqalani, Fath al-Bârî)

[11]Muslim ibn al-Hajjaj, Shahîh Muslim, Juz I, 553

[12]Ahmad ibn Syu’aib Abdurrahman al-Nasa’i, Al-Mujtaba min al-Sunan, Maktbah al-Mathbu’ah al-Islamiyah, Halb, 1986, Juz I, h. 654 (selanjutnya disebut al-Nasa’i, al-Sunan al-Nasa’i)

[13]Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Thabrani, al-Mu’jam al-Ausath, Dar al-Haramain, al-Qahiran, 1415 H,  Juz III, h. 25

[14]‘Ali ibn Muhammad ibn ‘Ali al-Jurjani, al-Ta’rîfât, Dar al-Kitab al-Arabi, Beirut, 1405 H, h. 72

[15]Abdurrahman ibn al-Kamal Jalal al-Din al-Suyuthi, Al-Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’ân, Dar al-Fikri Beirut, t.th, Juz II, h. 13

[16]Satria Efendi, Ushul Fiqh, Kencana, Jakarta, 2005, h. 232

[17]Al-Bukhari, al-Jâmi’al-Shahîh, Juz II, h. 782

[18]Muhammad ibn ‘Isa Abu ‘Isa al-Tirmidzi, Al-Jami’ al-Shahih Sunan al-Tirmidzi, Dar Ihya al-Turats al-Arabi, Beirut, t.t, IV, h. 351 (selanjutnya disebut al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi)

[19]Muhammad ibn Idris Abu Abdullah al-Syafi’i, Musnad al-Syafi’i, Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, t.t, h. 175 (selanjutnya disebut al-Syafi’i, Musnad al-Syâfi’î)

[20]Al-Syafi’i, Musnad al-Syâfi’î, h. 175

[21]Muhammad ibn Idris Abu Abdullah al-Syafi’i, Ikhtilâf al-Hadîts, Muassasah al-Kutub al-Tsaqafiah, Beirut, 1985, h. 523 (selanjutnya disebut al-Syafi’i, Ikhtilâf al-Hadîts)

[22]Al-Syafi’i, Ikhtilâf al-Hadîts, h. 523

   [23]Al-Syafi’i, Ikhtilâf al-Hadîts, h. 523